Cineam.net

Agama Itu Nasihat Atau Saling Menasehati

Agama itu nasihat atau saling menasehati (Ad-dinun-nashihah), demikian kaidah agama mengatakan. Ini merupakan pelajaran atau teguran yang baik sesama manusia agar tidak melakukan kesalahan atau larut dalam kesalahan. Sehingga merugikan diri sendiri dan orang lain. Perhatikanlah nasihat Lukmanul Hakim kepada anaknya (QS 31: 12-19).

Agama Itu Nasihat Atau Saling Menasehati

Nasihat

Nasihat tidak selalu datang dari atasan, tetapi juga dari bawahan sesuai dengan makna "saling menasihati". Karena atasan bukanlah orang yang tahu segala-galanya, ia bisa salah atau keliru. Dalam shalat berjamaah, yang menegur kekeliruan imam adalah makmum. Jika imam tidak mau dinasihati, berarti ia keras kepala. Agar shalat bisa diterima oleh Allah ﷻ, makmumnya harus memisahkan diri dari imam tersebut.

Rasulullah ﷺ pernah keliru dalam jumlah rakaat shalat, lalu sahabat menasihatinya. Nabi mengakui dan berkata: ''Sesungguhnya aku manusia biasa seperti kalian, bisa lupa dan khilaf''. Abu Bakar bahkan meminta dinasihati dari rakyatnya ketika diangkat sebagai khalifah: ''Ikutilah aku selama aku benar, dan nasihatilah bila aku keliru''. Ali ibn Abi Thalib berkata: ''Perhatikan apa yang diucapkan seseorang, jangan perhatikan siapa yang mengucapkannya''. Artinya orang kecil pun bila benar harus didengar.

Dalam dunia pemerintahan, biasanya penguasa punya penasihat dalam menjalankan pemerintahan. Mereka bukan sekadar memberi informasi atau sekadar mem-beo, tetapi harus mampu menasihati penguasa jika penguasa itu melenceng dari kebenaran. Atau menampung nasihat dari rakyat untuk disampaikan kepada penguasa itu apa adanya.

Namun nasihat bisa terabaikan oleh penguasa apabila ia egois dan keras kepala. Terhalang oleh ketidakbiasaan sosialnya menerima masukan dari rakyat, atau si pembawa nasihat yang memutarbalikkan isi nasihat itu untuk membuat penguasa senang.

Ketika Ali bin Abi Thalib menunjuk Malik al Asytar menjadi gubernur Mesir, beliau memberikan nasihat berdasarkan sabda Rasulullah: ''Bagi yang tidak dapat menjaga amanah berupa hak kaum yang lemah menghadapi orang-orang kuat, maka ia tidak akan pernah mencapai kesucian''. Orang seperti ini telah dikunci hati, pendengaran dan penglihatannya, dan di akhirat akan mendapat siksaan yang pedih (QS: 2:7).