Cineam.net

Bung Kecil Sutan Syahrir

Bung Kecil Sutan Syahrir ini bawaannya selalu riang. Si raja anak-anak ini juga berwajah simpatik, murah senyum dan tawa. Dia pun supel dalam bergaul sehingga mudah memperoleh teman. Kelebihan lain yang membuat lingkungan pergaulannya menyukai Sutan Syahrir adalah kecerdasan dan ketajamannya berpikir. Syahrir cepat menangkap makna dan hakikat persoalan yang dilihat atau didengarnya.

Bung Kecil Sutan Syahrir

Adalah berkat pesona lahiriahnya, Bung Kecil Syahrir lepas dari masalah dalam perjalanan pulang dari Belanda pada akhir 1931. Dia hendak kembali ke Tanah Air untuk menghidupkan kembali Partai Nasional Indonesia (PNI) yang dibubarkan oleh para pengurusnya. Si Bung Kecil menghadapi kesulitan. Karena kapal yang akan ditumpanginya siap berlayar. Sedangkan tiket yang diusahakan teman-temannya tak sempat diterimanya. Sebagai penumpang gelap Sutan Syahrir ini bakal diturunkan di pelabuhan pertama persinggahan kapal itu. Bila tak mampu membayar uang tiket dan denda yang dijatuhkan. Apalagi uang di tangan memang tak cukup untuk itu.

Baca Juga: Sutan Syahrir: Renungan dan Perjuangan

Bung Kecil Sutan Syahrir Ditolong Nyonya Belanda

Si Bung Kecil Sutan Syahrir berpikir keras mencari jalan keluar. Kekusutan wajahnya selagi termenung-menung itu tak mencegah rasa simpati seorang nyonya Belanda setengah umur kepadanya. Si nyonya tertegun mengamati Syahrir yang kecil, kurus, dan berwajah terpelajar. Kepulangan Syahrir-- yang baru dua setengah tahun belajar di Belanda -- janggal di mata nyonya itu. Biasanya pelajar Indonesia pulang kampung sekitar Juni-Juli.

Si nyonya lalu menyapa Syahrir dan menanyakan ihwal ganjil itu. Syahrir menjawab terpaksa pulang karena orangtuanya sakit keras. Ia juga menerangkan masalah tiket yang tak terpegang. Mendengar kisah tragis yang dituturkannya dalam bahasa Belanda yang sangat fasih. Tergerak hati nyonya itu untuk menolong Sutan Syahrir.

Dia lalu meminta suaminya seorang pegawai negeri, Refendaris Gouvernements Bedrijven di Bandung. Suaminya itu sedang dalam perjalanan kembali setelah cuti untuk mengupayakan pertolongan bagi Syahrir. Refendaris berhak membawa pembantu dalam perjalanan cutinya. Dinyatakan sebagai pembantu dan berlayar di bawah tanggungan pejabat pemerintah itu. Pemeriksaan tiket pun berlalu dengan aman.

Lepas dari persoalan tiket. Pikiran Syahrir menerawang jauh ke depan bila kapal yang ditumpanginya merapat di Tanjung Priok. Syahrir yakin kedatangannya bakal diawasi petugas Politieke Inlichtingen Dienst (PID), dinas inteljen Belanda. Keluarga Belanda penolongnya dikhawatirkan bakal menemui kesulitan di pelabuhan.

Saat kapal singgah di Singapura, Syahrir pun memutuskan turun. Dia kemudian menemui Subagio, kawan dekatnya dalam pergerakan Pemuda Indonesia di Bandung. Subagio yang sempat memimpin PNI cabang Garut tinggal di Singapura sejak partai itu mengalami krisis. Syahrir lalu mengajak pulang Subagio untuk meneruskan perjuangan.

Baca Juga: Sutan Sjahrir, PKI dan Soekarno

Sutan Syahrir Memperlihatkan Kepiawaiannya Sebagai Politisi

Belum genap 22 tahun usianya. Sutan Syahrir yang lahir di Padang Panjang 5 Maret 1909 ini berhasil memperlihatkan kepiawaiannya sebagai politisi. Kongres PNI yang kepanjangannya berganti jadi Pendidikan Nasional Indonesia, pada Juni 1932 di Bandung, pun memilih dia sebagai ketua umum. Akhir tahun itu pula kongres kaum buruh seluruh Indonesia yang mulanya mengundang Syahrir sebagai pemrasaran tentang perburuhan, akhirnya justru memilihnya jadi ketua pula.

Melejit sebagai tokoh pergerakan nasional, gerak-gerik Syahrir terus dipantau penguasa Belanda. Di bawah bayang-bayang pengawasan PID, PNI yang telah terkonsolidasi beralih kepemimpinan kepada Muhammad Hatta lewat referendum. Syahrir yang telah bebas tugas awal 1934 siap-siap kembali ke Belanda untuk melanjutkan studinya. Tapi represi Belanda telanjur menimpanya. Syahrir, Hatta, dan sejumlah tokoh PNI lainnya dipenjarakan tanpa diadili.

Baca Juga: Kiprah Politik Sutan Syahrir

Syahrir Mendekam di Penjara Cipinang

Hampir setahun mendekam di penjara Cipinang, para temannya baru bertemu Syahrir kembali di atas kapal Melchior Treub. Kapal itu hendak membawa mereka ke tempat pembuangan di Boven Digoel. Teman-temannya takjub melihat Bung Kecil Syahrir tak sekurus sebelum berpisah. Dia mengatakan sengaja menggemukkan diri.

Masuk Cipinang dengan badan kurus, Syahrir merasa sangat tersiksa saat berbaring di papan tidur sel penjara yang keras. Direktur penjara saat mengunjungi selnya membolehkan mengajukan permintaan. Syahrir minta diizinkan memperoleh kiriman bultzak atau kasur dari rumah. Direktur itu membolehkan, tapi tanpa kejelasan realisasi.

Bosan lama menunggu, Bung Kecil Sutan Syahrir lalu menjalankan program penggemukan. Ransum makan malam, porsinya sekitar 200 gram, selalu banyak tersisa. Syahrir memaksa diri menghabiskannya dengan makan berkali-kali tiap dua atau tiga jam dalam semalam. Lama-lama seluruh porsi besar itu dapat dilahap dengan dua kali makan saja, dan badannya sertamerta menjadi gemuk.

Direktur penjara menjenguk Syahrir selang tiga bulan kemudian. Ia bertanya apakah Syahrir masih membutuhkan bultzak yang dimintanya dulu. ''Nu niet meer, die bultzak heb ik al hier laten groien.'' Syahrir tersenyum menolak sembari menepuk pinggulnya yang telah sanggup duduk nyaman di atas papan keras.

Baca Juga: Puncak Karir Politik Sutan Syahrir

Syahrir Diasingkan ke Boven Digoel

Sepanjang pelayaran menuju tanah pembuangan, Sutan Syahrir tak sesekali terlihat gundah. Syahrir selalu tampak gembira, tertawa-tawa, dan banyak menuturkan cerita lucu-lucu yang memang merupakan salah satu keahliannya. Sehari sesampai Digoel, mereka dipanggil menghadap kepala pemerintahan setempat Kapten Van Langen. Satu demi satu mereka diminta memilih menjadi werkwilige atau naturalis. Orang buangan yang mengambil pilihan pertama masuk kategori bersedia bekerja sama dengan pemerintah. Mereka diberi pekerjaan kasar dengan upah 40 sen sehari. Pilihan ini memungkinkan mereka cepat dipulangkan ke tempat asal.

Pilihan kedua berarti sebaliknya, akan tetap tinggal di Digoel tanpa peluang pulang ke daerah asal. Mereka memperoleh ransum berbentuk natura seharga 2.40 gulden yang dibagikan bulanan. Menghadapi pertanyaan itu, Bung Kecil Syahrir justru balik bertanya kepada Kapten Van Langen. ''Berapa bulan lagi Kapten akan bertugas di Tanah Merah ini?'' Van Langen yang paham arah pertanyaan itu langsung mengkategorikan Syahrir sebagai naturalis. Pegawai pemerintah yang ditempatkan di Digoel yang nyamuk malarianya ganas itu memang masa tugasnya singkat, paling lama dua tahun.

Tekanan hidup di tanah pembuangan tak menggoyahkan Syahrir. Ia teratur mengunjungi kawan-kawan senasib berganti-ganti. Dengan banyak bercerita dan bersenda gurau bersama teman di pengasingan, pergaulannya membawa kesegaran dan kegembiraan. Selain kumpul-kumpul, Syahrir juga rajin membaca dan menulis.

Baca Juga: Kematian Sutan Syahrir

Syahrir Diasingkan ke Banda Neira

Keadaan bertolak belakang dirasakan Bung Kecil Sutan Syahrir di Banda Neira. Tempat buangan pindahan baginya dan Hatta, yang kondisinya jauh lebih baik dari Digoel. Catu biaya hidup mereka 75 gulden per kepala per bulan. Setelah beberapa hari tinggal Neira, Syahrir justru merasa kesepian. Ia tak menemukan banyak teman mengobrol. Interniran terdahulu di sini hanya dua orang, dr. Tjipto Mangunkusumo dan Mr. Iwa Kusuma Sumantri, masing-masing beserta keluarganya.

Bung Kecil Syahrir tak berlama-lama didera kesunyian. Sejumlah anak-anak Banda Neira jadi penghiburnya. Des Alwi beserta dua adiknya Lily dan Mimi bahkan dididik dan diangkat jadi anaknya. Ketiga anak itu berumur antara 8-10 tahun merupakan cucu almarhum Baadillah. Saudagar mutiara yang kaya raya dan dermawan tapi kemudian bangkrut dan jatuh miskin.

Begitu sayangnya pada anak-anak, menurut Hatta, Syahrir tak sungkan-sungkan menggunting dan menjahit. Seperti menjahit pakaian kedua anak perempuan itu dengan mesin jahit pinjaman. Anak-anak itu dibawanya berjalan-jalan ke mana-mana. 'Oom Syahrir', demikian anak-anak angkatnya memanggil, bahkan tak memperdulikan larangan meninggalkan pulau bagi orang buangan. Mereka diajak mendaki gunung di Pulau Gunung Api di seberang Pulau Banda.

Bila harga ikan tongkol sedang jatuh, mereka dibawa berperahu layar dan makan ''patita'' di Pulau Pisang, sekarang Pulau Syahrir. Sifat sayang Syahrir kepada anak-anak begitu luar biasa tebal. Ditunjukkan dengan keberaniannya mengasuh Ali, bayi berumur 8 bulan. Orok itu diasuhnya karena kedua orangtuanya tengah menderita sakit malaria. Apalagi ibunya yang beranak banyak sedang mengandung pula.

Syahrir Diterbangkan ke Surabaya

Setelah enam tahun di Banda Neira, Syahrir dan Hatta diterbangkan ke Surabaya sehari menjelang wilayah itu diduduki Jepang. Syahrir yang membawa serta tiga anak angkatnya Lily, Mimi, dan Ali kemudian dibawa ke komplek sekolah polisi di Sukabumi.

Terkesan pada kedekatannya dengan anak-anak, Dokter Tjipto sering menyebut Bung Kecil Sutan Syahrir ini sebagai 'raja anak-anak'. Ironisnya saat tutup usia pada usia 57 tahun, almarhum justru meninggalkan dua anak kandung yang masih bocah. Dari buah perkawinannya dengan Siti Wahjuni Poppy Saleh, Sutan Syahrir saat itu berputrakan Krya Arsjah (Buyung) 9 tahun dan Siti Rabijah Parvati (Upik) 5 tahun.