Cineam.net

Imperialisme di Afrika dan Asia

Imperialisme di Afrika dan Asia, rasanya tidak masuk akal, terutama imperialisme Eropa Barat, berhasil mendominasi benua tersebut. Secara geografis Afrika dan Asia demikian luas dan jumlah penduduk yang begitu besar. Imperialisme di Afrika dan Asia oleh Bangsa Eropa memiliki faktor-faktor dominan pendukung. Seperti, kekuatan militer, kekuatan senjata, politik tipu daya, mental adu domba, penguasaan ilmu/teknologi. Dan yang paling penting semangat nafsu budaya perang mereka/battle axe spirit.

Imperialisme di Afrika dan Asia

Seluruh benua Afrika dan Asia habis dikapling-kapling secara buas oleh imperialisme bangsa-bangsa Barat. Sebagai hasil pengerahan kekuatan militer yang sudah berabad-abad terlatih. Juga berpengalaman dalam bentuk imperialisme dengan jalan saling memerangi dan menaklukan.

Perlu diketahui, pada akhir abad ke-18, kehidupan di Eropa dan Amerika berubah. Revolusi di Amerika dan Perancis mengantarkan tatanan politik baru. Revolusi Industri di Inggris memodernisasi pertanian, pemrosesan bahan baku dan pembuatan barang. Kemudian industrialisasi menyebar ke Eropa dan Amerika. Industrialisasi juga mempengaruhi perubahan ekonomi dan politik.

Industrialisasi menciptakan permintaan besar untuk bahan baku dan menyebabkan kolonisasi Afrika dan Asia untuk SDA. Industrialisasi dan kemajuan teknologi meningkatkan kepercayaan Eropa dan Amerika, dan kebanggaan nasional. Mereka menjadi yakin bahwa mereka lebih unggul. Nafsu mereka akan kekuasaan mencapai klimaks, dengan melakukan imperialisme terhadap bangsa lain dalam dua Perang Dunia abad ke-20.

Sebelum masuk ke pembahasan Imperialisme di Afrika dan Asia, kita perlu mengetahui, apa itu imperialisme ? Imperialisme berasal dari kata Latin: (imperare) ; yang artinya (memerintah). Hak untuk memerintah "imperare" disebut (imperium), sedangkan orang yang diberi hak (diberi imperium) disebut "imperator".

Imperialisme juga mengacu pada praktik dominasi satu bangsa oleh bangsa lain untuk memperluas wilayah dan kekuasaan. Menilai cara hidup, tradisi dan kepercayaan mereka yang dijajah terlihat lebih rendah dan layak diganti. Baik memaksa melalui perang atau mempengaruhi (melalui politik). Dalam bidang politik, imperialisme kultural memainkan peran besar dalam memisahkan orang dari akar budaya dan tradisi.

Imperialisme di Afrika

Imperialisme di Afrika berawal tahun 1876, oleh raja Belgia, Leopord II, menyempurnakan imperialisme yang sudah berproses semenjak awal abad 16. Ia mengerahkan armadanya memasuki sungai Kongo, Afrika Tengah yang sangat kaya-raya. Luasnya 10 kali luas wilayah Belgia. Dengan kekuatan militer, daerah perairan subur makmur ini dikuasainya sampai tahun 1908.

Imperialisme modern di Afrika berlanjut, tepatnya pada tahun 1882 Inggris mengikuti Belgia. Inggris mengirim armadanya memasuki dan menaklukan sebagian daerah Afrika. Seperti: Mesir, Sudan Rhodesia, Uganda dan menjadikan semua daerah itu sebagai koloninya. Tahun 1902, setelah berperang tiga tahun, Inggris menaklukan Boer, sebuah negara merdeka. Kemudian disatukan paksa dengan Cape Koloni dan Natal. Lantas dilebur menjadi sebuah pemerintahan dominion Afrika Selatan, di bawah kekuasaan Inggris.

Sejak tahun 1830 (imperialisme kuno), Perancis sudah merancang menduduki wilayah ini. Dia menguasai beberapa pelabuhan di Aljazair. Tahun 1858 ia berhasil menaklukan seluruh wilayah Aljazair. Tahun 1881, Perancis menaklukan Tunisia, Sahara, Kongo Perancis, Gunia Prancis, Sinegal, dan Dahomey. Tahun 1905, hampir seluruh wilayah terbaik Afrika berhasil ditaklukkan dan menjadi daerah monopoli Belgia, Inggris dan Perancis.

Jerman dan Italia sangat berhajat juga merebut bagian-bagian tertentu daerah Afrika. Karena berbagai pertimbangan setempat dan merasa sudah memenangkan kompetisinya menguasai Eropa kontinental. Jerman menilai "jauh lebih berharga baginya menggalang persahabatan dengan Inggris daripada merebut duapuluh daerah koloni yang berawa-rawa di Afrika".

Namun karena desakan para pedagang, kaum industrialis, dan daya tarik pelayaran, agar ambil bagian dalam perlombaan masuk Afrika. Akhirnya Raja Jerman, Bismarck, tahun 1884 mengumumkan Afrika Barat bagian Selatan dan Timur. Serta tanah Togo sebagai daerah protektoratnya.

Tahun 1888, Italia dengan politik imperialisme memutuskan ikut memperebutkan sisa-sisa wilayah Afrika yang masih ada. Dia bangun pangkalan di Somali bagian pantai Timur. Terus menjadikan Abysinia sebagai daerah protektoratnya. Antara 1896 dan 1914 ia menaklukkan Tripoli dan Cyrenaica dari Turki, kemudian dijadikannya satu dengan nama Libia.

Imperialisme di Asia

Imperialisme di Asia diawali Portugis tahun 1511 (imperialisme kuno), dengan menaklukan Kesultanan Islam Malaka. Kemudian tahun 1519 menyebrang ke Maluku mengancam Kesultanan Islam Ternate. Pada Awal tahun 1582 Rusia juga menyebrangi pegunungan Ural sampai ke Samudera Pasifik. Di tahun 1763, setelah memperdayai Perancis, musuhnya, untuk menduduki India, imperialisme Inggris berhasil memproses anak benua itu menjadi bagian wilayahnya. Sampai berada di bawah kerajaannya secara keseluruhan di tahun 1858.

Sebelum Inggris dan Belanda memburu Portugis ke Asia Tenggara, Inggris mengusir Portugis dari Semenanjung Malaka. Dan Belanda menendang Portugis dari Maluku, seterusnya menduduki seluruh Kepulauan Nusantara, mulai akhir abad ke-16 dan awal abad ke-17. Awal abad ke-19, tepatnya tahun 1811-1816 Belanda terpaksa menyerahkan kekuasaanya di Nusantara kepada Inggris.

Di akhir masa apa yang dikatakan "Perang Candu/Opium War", imperialisme Inggris di China dengan mengambil sebuah pulau Hongkong, tahun 1842. Beberapa tahun kemudian imperialisme Perancis membangun sebuah Protektorat atas Indo-China.

Tahun 1858, Rusia menguasai semua daerah belahan Utara sungai Amur. Setelah itu ia membangun sebuah kota, Vladivostok, dan seterusnya, dengan paksa berhasil menguasai seluruh wilayah China. Tetapi itu hanya sampai sekitar tahun 1880-an. Karena negara-negara yang berkekuatan militer tinggi dan industrial, mulai berhajat menjadikan seluruh Asia sebagai daerah koloni mereka.

Pembagian Wilayah Kekaisaran China

Harga tertinggi/termahal dari semua wilayah itu adalah Kekaisaran China. Dengan penduduknya 400.000.000 jiwa waktu itu dan luas wilayahnya sama dengan luas Eropa harus dikuasai. Dengan cara Inggris tampil sebagai perintis, dengan menduduki Burma tahun 1885. Sepuluh tahun kemudian, terjadilah Perang China-Jepang pertama, 1894-1895. Hasilnya, imperialisme Jepang memperoleh pulau Formosa dan China mencabut klaimnya terhadap korea. Di penghujung abad ke-19, beberapa kekuatan Eropa memprotes agresi Jepang itu.

Tahun 1897, Jerman Berdalih menuntut pembunuhan terhadap dua orang misionarisnya di China. Hanya dengan mengukur pantai Kiaochow dan dengan hak istimewa/monopoli secara hukum untuk membangun jalan kereta api. Juga melakukan penambangan mineral di seluruh semenanjung Shantung. Hampir di tahun itu juga, imperialisme Rusia di China. Melakukan pemerasan untuk memperoleh hak membangun jalan kereta api melintasi China Manchuria ke Vladivostok.

Sementara itu, Inggris dan Perancis menuntut serta memperoleh hak pengawasan istimewa terhadap pelabuhan-pelabuhan penting di pantai-pantai China. Tahun 1898, sudah terlihat, bahwa kemerdekaan/kebebasan China akan pupus secepatnya. Negara-negara barat sudah merumuskan, paling kurang, bagian Selatan kekaisaran itu akan jatuh ke tangan imperialisme Perancis. Sesuai dengan batas-batas pengaruhnya. Imperialisme Inggris dan Jerman akan berbagi perolehan atas daerah bagian tengah. Rusia dan Jepang akan memperebutkan apa yang masih tersisa di belahan Utara.

Persaingan Antar Kekuatan

Dalam buku "Pergumulan Timur Menyikapi Barat: Dasar-dasar Oksidentalisme,"Karya Prof. Dr. Burhanuddin Daya menjelaskan bahwa, sekitar penghujung abad itu, imperialisme di China secara berturut-turut digoyang tiga perkembangan luar biasa. Termasuk persaingan antar kekuatan imperialisme.

  1. Tahun 1899 Amerika Serikat menyatakan China sebagai "daerah terbuka" bagi semua bangsa. Dengan ini China berharap Amerika mungkin akan menentang imperialisme.
  2. Tahun 1900, Society of Harmonious First yang terkenal dengan sebutan Boxers. Melancarkan gerakan pengusiran "setan-setan luar" yang bergentayangan keluar dari China. Kerusuhan besar terjadi, harta benda dirampok, ratusan orang asing mati terbunuh, termasuk seorang menteri Jerman. Walaupun pemberontakkan ini didukung pemerintahan pribumi China, namun akhirnya dia berhasil ditumpas oleh sebuah ekspedisi militer gabungan yang sangat kuat (Liga Pendukung imperialisme); Inggris, Jerman, Rusia, Perancis, Jepang, dan bahkan Amerika sendiri.
  3. Terjadi persaingan antar kekuatan imperialisme sendiri. Masing-masing ingin memperoleh bagian yang semakin banyak, terutama antara Inggris, Rusia, Jerman dan Jepang. Tahun 1902 Inggris dan Jepang sepakat kerja sama melindungi daerah-daerah dan kepentingan mereka berdua dari ancaman Jerman dan Rusia. Tahun 1904 kekhawatiran itu ternyata beralasan, karena Rusia memasuki Manchuria dan Jepang angkat senjata. Konflik berakhir tahun 1905 dengan kemenangan berada di pihak Jepang. Rusia dipaksa menyerahkan Port Arthur kepada Jepang dan mengakui kekuasaan Jepang atas Korea.

Persaingan kekuatan imperialisme terus berlanjut. Namun sampai terbit fajar Perang Dunia I meletus 1914-1918. Sampai berlanjut ke Perang Dunia II 1939-1945, kebebasan China tetap jauh dari perolehan. Amerika, sebagai penyusul, yang diharapkan meringankan penderitaan China dari cengkraman imperialisme, ternyata menjadi musuh yang lebih kejam. Demikian ulasan singkat terkait imperialisme di Afrika dan Asia, semoga bermanfaat.