Cineam.net

Kematian Sutan Syahrir

Kematian Sutan Syahrir - Ia (Sutan Syahrir) berjuang untuk Indonesia merdeka, melarat dalam pembuangan untuk Indonesia merdeka, ikut membina Indonesia merdeka. Sungguh sangat tragis, sakit dan kematian Sutan Syahrir dalam status sebagai tahanan negara Republik Indonesia yang merdeka. Syahrir lebih banyak menderita di dalam Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, daripada di dalam Hindia Belanda kolonial yang ditentangnya.

Kematian Sutan Syahrir

Begitulah perjalanan hidup, kematian Sutan Syahrir adalah sebuah ironi anak bangsa. Bila tidak ingin dikatakan sebuah tragedi dalam perjalanan bangsa--menyangkut bagaimana bangsa ini seharusnya menghargai seorang putra terbaiknya. Ironis! semasa penjajahan, Syahrir menghabiskan waktu, tenaga, dan pikiran untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Namun kematian Sutan Syahrir karena pikiran sempit dan kepentingan politik segolongan elit bangsa.

Baca Juga: Sutan Syahrir: Renungan dan Perjuangan

Sutan Syahrir Semasa Jepang

Semasa Jepang, Sutan Syahrir memang tak tampil. Tapi bukan berarti ia diam. Baginya, hubungan dengan penjajah baru biarlah diemban Soekarno dan Hatta. Syahrir berbeda pendapat dengan Soekarno-Hatta, yang dinilainya termakan janji Jepang yang akan memerdekakan negeri ini. Menurutnya, kemerdekaan bukan sesuatu yang harus diminta dari Jepang. Proklamasi harus dilakukan tanpa keterlibatan Jepang, karena ia tak ingin nantinya timbul anggapan Indonesia merdeka adalah ciptaan Jepang.

Karena itulah, semasa Jepang ia memilih berjuang di bawah tanah. Syahrir mengorganisisasikan barisan pemuda sepandangan, untuk merebut kemerdekaan dari Jepang, dengan rencana proklamasi tanggal 15 Januari. Beberapa pemuda mendesaknya untuk memproklamasikan kemerdekaan. Tapi Syahrir menolak. Baginya, hanya Soekarno dan Hatta yang layak memproklamasikan negeri ini. Syahrir lalu mendesak Hatta untuk memproklamasikan negeri ini. Namun, Hatta hanya ingin melakukan dengan Soekarno. Syahrir dan Hatta-pun mendatangi Soekarno. Tapi, Soekarno ragu dan tampaknya masih percaya dengan janji Jepang.

Tindakan ini membuat marah kelompok pemuda, yang lalu menculik Soekarno dan Hatta ke Rengasdengklok, mendesak mereka segera menyatakan proklamasi. Pemuda-pemuda ini adalah kader-kader Syahrir, yang tahu benar bahwa Jepang di Indonesia hanyalah untuk menjajah. Bukan untuk memerdekakan negeri ini. Atas bimbingan Syahrir, para pemuda ini sadar Jepang akan kalah dalam Perang Dunia II. Tentara Sekutu dan Belanda akan masuk lagi ke Indonesia. Oleh karenanya, negeri ini harus lebih dulu merdeka sehingga nantinya bisa berhadapan dengan Belanda sebagai bangsa merdeka.

Baca Juga: Kiprah Politik Sutan Syahrir

Sutan Syahrir Diawal Kemerdekaan

Diawal Kemerdekaan, sebelum kematian Sutan Syahrir, dirinya merupakan salah satu orang yang ada di garis depan. Memimpin pemerintahan, mengatur negara, untuk mempertahankan diri terhadap serangan dari luar dan dari dalam. Dari luar, sebagai perdana menteri pertama republik ini. Syahrir harus berhadapan dengan usaha NICA-Belanda yang mendompleng tentara pendudukan Inggris. Mereka ingin menjajah kembali negeri ini. Di dalam negeri, Syahrir berhadapan dengan usaha-usaha golongan politik tertentu yang ingin menjatuhkan pemerintahanan.

Jurus Syahrir untuk menghadapi semua tantangan tersebut adalah dengan berusaha memenangkan waktu. Ke dalam ia melakukan konsolidasi dengan mengorganisasikan perangkat negara. Termasuk membina TNI, mendirikan kepolisian, memperkuat kedudukan pamong praja, mengeluarkan uang resmi pertama Indonesia. Ke luar, ia berjuang agar republik diakui internasional. Syahrir muncul ke depan karena saat itu Belanda dan Inggris menolak berunding dengan Soekarno, yang dicap dekat dengan Jepang.

Saat itu, Syahrir harus bermain di antara perjuangan fisik untuk mengusir Belanda dengan diplomasi internasional. Dengan kelihaiannya berdiplomasi, Syahrir memaksa Belanda mengakui de facto kedaulatan Republik. Seperti Jawa, Madura dan Sumatera, melalui perundingan Linggarjati (25 Maret 1947).

Syahrir juga melobi sahabat-sahabatnya. Di antaranya Jawaharlal Nehru dari India agar Indonesia bisa tampil di sidang Dewan Keamanan PBB, 14-25 Agustus 1947. Pidato Syahrir di PBB membuka mata dunia atas perjuangan rakyat Indonesia. Setelah pidato ini, PBB membentuk Committee of Good Offices (Panitia Jasa-jasa Baik) untuk membuka jalan damai penyelesaian sengketa Indonesia-Belanda. Diplomasi Syahrir ini semakin memperlancar proses pengakuan dunia atas Indonesia Merdeka.

Baca Juga: Sutan Sjahrir, PKI dan Soekarno

Syahrir Ditahan Atas Perintah Soekarno

Seakan menisbikan jasa-jasa Syahrir, tahun 1962 tanpa alasan jelas. Berbagai sumber menyebutkan ini adalah hasil operasi Badan Pusat Intelijen pimpinan tokoh PKI Dr Soebandrio, yang dekat dengan Soekarno. Sutan Syahrir pun ditahan. Ia ditahan atas perintah Penguasa Perang Tertinggi Presiden Soekarno. Namanya dikaitkan dengan usaha coup d'etat dan pembunuhan Soekarno yang dituduhkan kepada orang-orang Partai Sosialis dan Masyumi.

Bagi Hatta tuduhan itu adalah bentuk ketidakadilan, karena kesalahannya tak pernah dibuktikan, apalagi diadili. Hatta pernah mencoba meyakinkan Soekarno bahwa Syahrir adalah korban fitnah PKI. Tapi Soekarno tak menanggapi surat Hatta ini yang meminta Syahrir dibebaskan. Soekarno juga membiarkan Syahrir menderita dalam tahanan, sehingga akhirnya ia jatuh sakit yang kemudian mengantarnya ke kematiannya.

Sebelum kematian Sutan Syahrir, dirinya tak pernah mengeluh dan mengiba walaupun pemerintah menzaliminya. Kalaupun Syahrir mengeluh, lebih karena ia menilai kebodohan masih merajalela, negara salah urus dan maraknya korupsi pada pemerintahan. Semua, katanya, pasti akan berbuntut pada kesengsaraan rakyat.

Baca Juga: Puncak Karir Politik Sutan Syahrir

Syahrir Seorang Sosialis Demokrat

Sebelum kematian Sutan Syahrir, dirinya tak hanya berjuang untuk kemerdekaan. Ia juga dikenal penganut faham sosialis, memperjuangan terwujudnya masyarakat sosialis kerakyatan. Sosialisme yang dimaksud Syahrir adalah yang berdasarkan kerakyatan, menjunjung tinggi martabat manusia, tidak memaksa.

Hatta menyebut Syahrir sebagai seorang sosialis demokrat, mencita-citakan agar rakyat bebas dari segala tindasan. Syahrir punya andil besar dalam keluarnya Maklumat No X 16 Oktober 1945. Ketika dirinya menjadi ketua Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat. Isi maklumat ini mengatur agar ada kebebasan berpolitik dan membentuk partai politik di Indonesia. Syahrir pernah menulis sosialisme adalah suatu cita-cita, ajaran dan pandangan hidup, gerakan perubahan.

Walau demikian, Syahrir mengecam faham sosialis yang diajarkan Mark-Engels, yang juga menekankan perlunya perjuangan kelas. Bagi Syahrir, kaum sosialis harus berpegang pada etik dan setia kawan. Juga kemanusiaan, memperjuangan sosialisme secara kemanusiaan. Tidak membabi buta berpegang pada ajaran Mark-Engels, seperti yang diterjemahkan Lenin dan Stalin.

Syahrir menilai orang komunis adalah jenis manusia yang tertarik oleh ajaran perjuangan kelas. Padahal, katanya, ajaran itu tak kenal damai. Syahrir menilai kaum komunis selalu memandang setiap orang yang tak sefaham sebagai musuh. Yang harus dilawan, diruntuhkan agar kaum komunis bisa berkuasa. Sosialisme kerakyatan, baginya, harus menjunjung tinggi solidaritas, bukan memepertajam perbedaan kelas.

Untuk pemerintah, sosialisme kerakyatan berjuang untuk membentuk pemerintahan oleh rakyat untuk rakyat, menghormati kehidupan pribadi seseorang tanpa gangguan negara; adanya persamaan warga di mata hukum, tanpa membedakan ras, suku, kelamin dan agama; perwakilan rakyat yang merdeka yang didapat melalui pemilihan yang merdeka; pemerintahan oleh mayoritas dengan menghormati hak-hak minoritas; pembuatan undang-undang melalui lembaga perwakilan; serta pengadilan yang tak dipengaruhi negara.

Menurut Syahrir, Sosialisme juga mempunyai tujuan ekonomi untuk menjadikan kehidupan penduduk lebih baik. Mengusahakan tak adanya pengangguran, bertambahnya produksi dan pembagian harta yang lebih merata. Kepentingan produksi harus berjalan untuk kepentingan rakyat dengan kegiatan yang rasional dan efisien.

Baca Juga: Bung Kecil Sutan Syahrir

Syahrir Menolak Keras doktrin Karl Marx

Walau seorang sosialis, Syahrir keras menolak doktrin Karl Marx perihal perjuangan kelas (yang dianut PKI). Sutan Syahrir menolak mengikatkan diri dengan pusat gerakan komunis internasional. Seperti yang diucapkannya pada konferensi hubungan antar-Asia di New Delhi, dengan mengajukan gagasan politik luar negeri bebas aktif untuk Indonesia.

Dalam dunia politik, Syahrir ingin agar partai-partai mengusahakan pendidikan politik rakyat, agar rakyat jadi pintar, matang dan berjiwa kritis. Ia mengkritik partai-partai yang pemimpinnya hanya bisa berpidato, memanfaatkan rakyat yang tetap saja bodoh untuk kekuasaannya. Syahrir melihat saat awal kemerdekaan telah muncul juga ancaman aliran totaliterisme dan otoriterisme di pemerintah. Yang semuanya ia sebut sebagai peninggalan feodalisame.

Melalui tulisan dalam brosur bertajuk Perjuangan Indonesia, Syahrir mengimbau pemuda Indonesia untuk berjuang membentuk pemerintahan demokratis. Bukan pemerintahan fasis, bukan juga pemerintahan feodal. Syahrir mengungkapan fasisme bisa muncul di mana saja dan kapan saja. Di kalangan militer dan birokrasi. Juga dalam kehidupan rakyat sehari-hari. Syahrir meminta pemuda waspada pada keinginan untuk menang sendiri dan memaksakan kehendak.

Fasisme yang dikhawatirkan Syahrir ternyata muncul dengan kedekatan Soekarno dan PKI. Fasisme juga muncul dalam pemerintah orde baru yang berkolobarasi dengan militer. Sifat fasisme yang ada di pemerintahan masa itu telah memenjarakan Syahrir. Kematian Sutan Syahrir dalam penderitaan 16 April 1966 saat dirawat di Zurich, Swiss. Jauh dari tanah yang ia perjuangkan untuk merdeka.

Saat kematian Sutan Syahrir, dirinya bahkan tak meninggalkan kekayaan apapun untuk istrinya. Siti Wahyuni "Poppy" Saleh SH dan dua anaknya yang masih kecil. Namun, bagi rakyat republik ini, kematian Sutan Syahrir meninggalkan pesan bahwa perjuangan bangsa belum selesai. Bila rakyat belum hidup dalam kesejahteraan, bila mereka belum bebas dari rasa kekurangan, ketakutan dan kecemasan.