Cineam.net

Kurban : Manfaat, Istilah dan Keutamaan

Kurban (Qurban) tergolong ibadah maliyah (harta). Pada penjelasan singkat ini membahas tentang manfaat, keutamaan serta menurut istilah. Kurban (Qurban) memiliki dimensi hikmah dan nilai kemaslahatan yang multi aspek. Secara vertikal, manfaat ibadah kurban membentuk kesalehan pribadi dan secara horizontal mengarah kepada kesalehan sosial. Dengan kata lain, manfaat kurban adalah implikasi dari kesalehan individual. Kedua aspek ini tercipta dengan baik manakala moralitas iman seseorang terpola oleh instink religiusnya.

Kurban : Manfaat, Istilah dan Keutamaan

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنْكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ

Tidak akan sampai kepada Allah daging dan darah unta yang kalian korbankan, kecuali hanya ketakwaan kalian. Demikianlah Ia mendayagunakannya untuk kalian supaya kalian mengagungkan Allah atas hidayah-Nya kepada kalian. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.(al-Hajj: 37)

Karena instink religius itu bersifat pasif, maka diperlukan respons kejiwaan dengan cara menggugah wijdani. Bahwa kita diciptakan pertama kali dari satu diri. Sehingga tertanam benih kecintaan, persaudaraan dan kesetiakawanan. Nabi ﷺ bersabda:

Ummat Islam itu saling menjaga darah agar tidak tertumpah dan berusaha melindungi yang terdekat. Mereka mengulurkan tangan (memberi bantuan) kepada yang lain.(HR. Abu Dawud)

Manfaat Kurban

Secara keseluruhan, masyarakat Islam memang sebuah komunitas yang ditegakkan di atas bangunan solidaritas. Solidaritas terbentuk berdasarkan perasaan persamaan, yaitu pengayoman dari para aghniya (hartawan) terhadap kaum dhu'afa (lemah) dan mustadh'afin (teraniaya). Dengan begitu manfaat kurban adalah salah satu bentuk pengayoman tersebut.

Sembelihlah kurban dan senangkanlah hati kalian. Karena tidak seorang pun diantara seorang muslim yang menghadapkan hewan kurbannya ke Ka'bah, melainkan darah, tanduk dan bulunya merupakan kebajikan yang akan diletakkan di atas mizan amal kelak pada hari kiamat.(H.R. Baihaqi)

Dalam upaya inilah, seruan Qur'an mengenai kurban dari awal selalu melibatkan motivasi, kesadaran religius dan kepekaan sosial. Motivasi dibutuhkan sebagai penggerak awal dari dalam. Selanjutnya ia akan berusaha membisiki mata-hati untuk beramal. Ketika menerima laporan dari dalam, kesadaran manusia tumbuh bersamaan dengan hembusan ruh ketuhanan atau citra Tuhan dalam bahasa Prof. Isma'il Raj'i al-Faruqi.

Kepekaan dan semangat kesetiakawananlah yang perlu ditanya ketika membaca atau mendengar ajakan untuk berkurban. Di sinilah kita bisa mengukur fruktuasi keimanan seseorang. Sebab kurban adalah pasangan iman dan kebatilan pasangan kekufuran.

Dan adapun orang-orang yang bakhil dan merasa dirinya cukup, serta mendustakan pahala terbaik, maka kelak Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar. Dan hartanya tidak bermanfaat baginya apabila ia telah binasa. (Al-Lail: 8-11)

Walaupun bukan satu-satunya cara. Tetapi diakui oleh semua kalangan bahwa wacana termudah untuk membangkitkan kesetiakawanan adalah dengan memberikan bantuan. Melalui berbagai jaringan infaq dan shadaqah. Pengertian berbuat baik, beramal dan bersedekah apalagi zakat, oleh para fuqaha dinilai sebagai amalan sosial yang berdimensi ganda; vertikal dan horizontal.

Sedangkan ibadah terbaik. Seperti ditulis Ibnu Taimiyah (661-728 H) adalah yang mencakup dan memiliki nilai ganda tersebut. Sebagaimana diisyaratkan Qur'an surah Al 'Imran 112. Melalui ibadah kurban, seorang muslim menjadi terikat dan terlibat. Serta bertanggung jawab terhadap dirinya dan orang lain dihadapan Allah atas nikmat yang diterima.

Sasaran Kurban

Orang yang terbaik dari semua makhluk ciptaan Allah ﷻ adalah yang paling banyak memberikan kemanfaatan terhadap sesama (H.R. Al-Bazzar). Oleh karena itu, para fuqaha melarang orang yang berkurban untuk menjual belikan daging kurban. Atau menyimpannya di luar batas waktu penyembelihan (10-13 Zulhijjah). Sasaran kurban yang baik adalah yang dibagikan kepada keluarga (orang yang berkurban). Kemudian daging kurban disedekahkan kepada fakir miskin dan dihadiahkan kepada kerabat (Kifayah al-Akhyar.II:149), sehingga seluruhnya dapat dibagi dan tidak ada lagi yang mengkonsumsinya setelah 3 hari sejak penyembelihan.

Kurban adalah pemberian istimewa atas sesuatu keadaan atau hak yang sangat berarti bagi seseorang untuk kepentingan orang banyak. Ia adalah refleksi dari nilai-nilai kepatuhan, pengabdian dan kerelaan atas nikmat yang diterima dari Allah yang Maha Kaya. Kurban ada yang berbentuk binatang sembelihan (al-udhhiyah, 'aqiqah, al-Hadyu) dan ada yang berupa tenaga, uang, bahkan jiwa.

Istilah Kurban

Istilah berkurban, mengorbankan atau pengorbanan yang dipetik dari bahasa aslinya, Qariba-Yaqribu-Qurbanun. Mengindikasikan gambaran sebuah pemberian berharga sebagai tanda syukur nikmat dan kepedulian moral terhadap sesama. Oleh karena itu, kurban yang diterima adalah binatang tertentu. Disembelih dengan niat yang ikhlas dan cara tertentu sesudah shalat Hari Raya Haji sampai hari tasyriq berakhir. (Imam Shan'ani. Subul as-Salam. 1960.IV:89)

Memberikan sesuatu yang tidak berguna, bukanlah kurban, tetapi sumbangan biasa. Inilah rahasianya mengapa binatang yang cacat atau belum cukup umur tidak sah untuk dijadikan hewan kurban. Waktunya pun harus sesuai, yaitu waktu dhuha sesudah shalat 'Idul Adhha dilaksanakan. Karena itulah ia disebut Udhhiyah. Demikian pula niatnya, hanya dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. Dan untuk ini ia dinamakan kurban, yang berarti usaha menghampirkan diri kepada Allah ﷻ (Tafsir al-Manar.IV:341).

Keutamaan 'Idul Kurban

Apalagi 'Idul Kurban (Hari Raya Haji) lebih utama dari 'Idul Fithri dan dari tiga Hari Raya umat Islam lainnya. Seperti hari Jum'at, hari Wukuf 'Arafah dan hari-hari di Mina (H.R. Abu Dawud, Nasa'i dan Turmudzi). Nilai keutamaan 'Idul Adhha ini di samping terletak pada ibadah haji yang ada di dalamnya (terutama haji akbar). Juga pada syi'ar sosial ibadah kurban. Karena itu, Rasulullah ﷺ dalam salah satu do'a udhhiyah berucap:

Ya Allah, dari Engkau dan untuk Engkau. Dari Muhammad dan umatnya. Dengan nama Allah yang Maha Besar.(H.R. Abu Dawud dari Jabir bin 'Abdullah)

Dengan begitu, Nabi ﷺ sebenarnya menginginkan agar umat beliau dibelakang hari meneruskan tradisi kenabian ini. Dalam wasiat Wada' (perpisahan) Nabi ﷺ mengulanginya kembali:

Saudara-saudara! Sepatutnya setiap penghuni rumah melaksanakan kurban (udhhiyah/'atirah) setiap tahun."(H.R. Ahmad, Abu Dawud, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Tujuannya adalah untuk mengenang kembali kisah pengorbanan Qabil dan Habil (Al-Maidah: 27), Ibrahim-Isma'il (As-Shaffat: 102-107) dan Ibn az-Zabihain atas diri 'Abdullah bin Abdul Muthalib (ayahanda Nabi Muhammad ﷺ) yang diganti dengan 100 ekor unta. Pahala yang akan diterima dari semua sisi binatang kurban tersebut akan menjadi kebajikan. Serta saksi pada waktu diadakan hisab dan mizan di hari Qiamat (Nail al-Awthar V: 159).

Seruan Islam dalam semua perintah dan larangannya adalah seruan kejama'ahan, kekompakan dan kebersamaan. Manfaat kurban mendorong pelakunya untuk memadukan antara kesalehan pribadi dan kesalehan sosial menuju manusia yang paripurna dunia dan akherat. Demikian ulasan singkat terkait manfaat kurban (Qurban), keutamaan serta menurut istilahnya.

Dilansir dari Buletin Dakwah
Drs. Syamsul Bahri Ismaiel