Cineam.net

Sutan Syahrir: Bakat, Kecerdasan dan Puncak Karir Politik

Bakat politik Sutan Syahrir terlihat sejak masih sekolah di AMS. Dirinya sudah dikenal cerdas, jago berdebat, dan selalu berpikir bebas. Suatu hari, setelah kewalahan berdebat dengan Syahrir, Kepala AMS Bandung Dr. Bessem spontan berlutut di depan siswanya yang bertubuh kecil itu. "Saya menyerah, ya Tuan yang amat tahu," katanya dalam bahasa Belanda dengan nada jengkel. Di sini pula bakat politik Sutan Syahrir sebagai 'manusia pergerakan' sudah mulai tampak. Bakat dan kecerdasan itu terus tumbuh dalam sikap dan jiwa yang merdeka. Mengantarkannya pada puncak karir politik Sutan Syahrir kelak.

Politik Sutan Syahrir

Sikap merdekanya membuat si 'bung kecil' Syahrir ini bebas berdebat dengan siapa saja dalam koridor pikiran yang sehat. Meski bertubuh kecil dan berasal dari kelompok inlander warga kelas dua, Syahrir berani berdebat dengan guru-guru Belandanya. Ketika itu guru-gurunya dianggap sebagai dewa oleh hampir semua siswa yang lain. Bahkan, Syahrir juga berani berdebat dengan 'bos' para guru, yakni direktur AMS di atas, dan menaklukkannya.

Baca Juga: Kiprah Politik Sutan Syahrir

Bakat Politik Sutan Syahrir

Bakat politik Sutan Syahrir ini terus diasah, dirinya bersama kawan-kawannya mendirikan kelompok debat yang diberi nama Patriae Scientiae Que (PSQ). Yang berarti untuk tanah air dan ilmu pengetahuan. Dengan semangat inilah Syahrir mulai menerjuni dunia pergerakan. Tahun 1927 ia masuk Jong Indonesia. Sebuah organisasi pemuda yang berasaskan persatuan bangsa, yang kemudian berubah menjadi Pemuda Indonesia. Ia juga ikut mendirikan perguruan nasional Cahya dan aktif dalam perkumpulan tonil Batovis, untuk mementaskan lakon-lakon patriotik.

Saat itulah Syahrir muda mulai sadar pentingnya untuk memerdekakan bangsanya dari penjajahan Belanda. Seperti dikatakan Rosihan Anwar, ia sudah bisa melihat bahwa kolonialisme hanya mempraktekkan ketidakadilan dan pemerasan terhadap rakyat Indonesia. Kesadaran inilah yang terus Syahrir sosialisasikan kepada kawan-kawannya, baik di AMS maupun di organisasi-organisasi pergerakan pemuda.

Sikap merdeka serta bakat politik Syahrir membawanya terlibat dalam Partai Nasional Indonesia (PNI). Didirikan pada 1927 dan dipimpin oleh Ir. Soekarno. Di sini pula sikap merdeka dan bakat politik Sutan Syahrir tetap menonjol. Dalam suatu rapat dengan PI, misalnya, Syahrir memperingatkan Bung Karno agar tidak menggunakan bahasa Belanda dalam berdebat dengan Soewarni. Bung Karno, yang saat itu sudah dikenal sebagai tokoh besar, langsung meminta maaf pada forum rapat.

Jiwanya yang merdeka serta kehausannya pada ilmu pengetahuan terus menyemangati Syahrir saat belajar di Universitas Amsterdam. Begitu tinggal di Belanda, Syahrir bergabung dengan kelompok mahasiswa sosialis. Disebut Amsterdamsche Sociaal Democratische Studenten Club, yang berpandangan bahwa Indonesia harus merdeka.

Seperti ditulis oleh Subadio Sastrosatomo. Di Belanda Syahrir juga banyak mempelajari masalah sosialisme. Juga dunia kaum buruh, dan kemudian bergabung dengan Perhimpunan Indonesia (PI) yang diketuai oleh Mohammad Hatta. Syahrir, kata Subadio, dengan semangat mudanya, ingin merangkul seluruh kemanusiaan, termasuk kaum buruh. "Secara spiritual ia menyemplungkan diri dalam proletariat," tulisnya dalam buku Mengenang Sutan Syahrir yang disunting oleh Rosihan Anwar.

Baca Juga: Sutan Syahrir: Renungan dan Perjuangan

Pemecatan Sutan Syahrir Dari PI

Karir politik Sutan Syahrir mendapat rintangan. Setelah bergabung dengan League Against Imperialism and for National Independent (Liga Anti Imperialisme dan Untuk Kemerdekaan Nasional). PI kemudian disusupi oleh komunis. Kelompok komunis yang dimotori Rustam Effendi, Abdul Madjid, dan Setiadjid. Inilah yang kemudian pada 27 November 1931 'pemecatan' Sutan Syahrir dan Hatta dari PI. Tapi, begitu mendengar pemecatan tersebut, Syahrir dengan santai mengatakan, "Minggu lalu saya dan Hatta keluar dari PI. Kami tidak berurusan dengan organisasi komunis. Bagaimana mungkin PI dapat mendepak orang yang telah keluar."

Sebelum itu, di Bandung pada 22 Desember 1930 terjadi penangkapan terhadap empat orang tokoh PNI. Seperti Soekarno, Gatot Mangkupradja, Maskoen, dan Soepriadinata. Keempatnya kemudian ditahan atas keputusan pengadilan Bandung. Atas anjuran Mr Sartono, PNI kemudian membubarkan diri. Hatta dan Syahrir, yang masih tinggal di Belanda, menganggap pembubaran PNI itu memalukan dan dapat melemahkan pergerakan rakyat. Suara di tubuh PNI sendiri pecah. Muncul Golongan Merdeka yang dipimpin Soedjadi dan menentang pembubaran PNI.

Mendengar perkembangan yang memprihatinkan itu, Hatta dan Syahrir bermufakat agar Syahrir pulang ke Indonesia pada Desember 1931. Dengan tujuan utama untuk membantu Golongan Merdeka mempertahankan kelangsungan hidup PNI. Serta membantu majalah Daulat Rakyat yang akan diterbitkan oleh Soedjadi dengan dukungan Hatta. Sebelum berangkat, Syahrir sempat bertemu tokoh sosialis Belanda, J de Kadt. Menawarkan kerja sama agar kaum sosialis Belanda membantu pergerakan kebangsaan Indonesia yang masih lemah.

Baca Juga: Sutan Sjahrir, PKI dan Soekarno

Syahrir Bergabung Dengan Golongan Merdeka

Sesampai di Indonesia, Sutan Syahrir bergabung dengan Golongan Merdeka yang baru saja menyelesaikan konperensi di Yogyakarta. Dalam konperensi pada Februari 1932 itu mereka mendirikan partai politik baru. Yakni Pendidikan Nasional Indonesia, yang juga disingkat PNI, dengan ketua Soekemi. Syahrir dipercaya menjadi ketua PNI Cabang Jakarta. Si 'bung kecil' kemudian membantu mempersiapkan kongres PNI pada Juni 1932 di Bandung. Syahrir ikut merumuskan asas dan tujuan serta rencana perjuangan politik PNI sebagai partai kader.

Sebelum kongres, Syahrir menyebarkan pengetahuannya tentang sosialisme. Juga strategi perjuangan kerakyatan yang diperolehnya di Belanda kepada para kader PNI melalui berbagai kursus reguler. Ini membuat namanya makin populer. Sehingga dalam Kongres I PNI di Bandung dengan memiliki bakat politik, Sutan Syahrir terpilih menjadi Ketua Umum PNI menggantikan Soekemi.

Baca Juga: Bung Kecil Sutan Syahrir

Syahrir Menjadi Ketua Umum PNI

Setelah Sutan Syahrir terpilih menjadi Ketua Umum Pendidikan Nasional Indonesia (PNI), Ia lantas melakukan konsolidasi. Dengan metode pendidikan yang mengarah pada kematangan politik dan jiwa kritis. Cabang-cabang PNI kemudian banyak berdiri di berbagai pelosok tanah air dengan ribuan anggota. Namun, begitu Hatta pulang ke Indonesia pada awal 1933, Syahrir menyerahkan jabatan ketua umum PNI kepada tokoh seperjuangannya itu.

Bergabungnya (kembali) Hatta dan Syahrir di PNI mengawali era baru pemantapan perjuangan ke arah Indonesia merdeka. Hatta, dengan dukungan politik Sutan Syahrir, kemudian menyusun buku kecil yang diberi judul "Ke Arah Indonesia Merdeka (KIM)". Buku kecil ini disebar ke semua anggota KIM. Untuk mendalaminya, atas usulan Syahrir disusunlah 150 pertanyaan tertulis tentang KIM. Oleh Dinas Penerangan Politik Hindia Belanda (PID) disebut De Honderd Vijftig Vraagstukken. Tiap pengurus cabang diwajibkan mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu kepada para anggota dalam tiap kursus, dan harus dijawab dengan benar.

Gerakan politik Sutan Syahrir itu terbukti sangat efektif untuk menyebarkan ide-idenya tentang kemerdekaan. PID yang semula hanya menyoroti Soekarno dan kawan-kawannya, akhirnya harus mewaspadai Syahrir dan para pimpinan PNI baru. Ia lantas dikategorikan sebagai pemimpin pergerakan yang berbahaya. Apalagi, Syahrir juga memiliki media massa, Daulat Rakyat, sebagai media perjuangan. Lebih dari itu, Ia juga dekat dengan kaum buruh. Bahkan, dalam kongres kaum buruh di Surabaya, Syahrir memberikan prasaran dan kemudian dipilih menjadi Ketua Central Persatuan Buruh Indonesia.

Ketakutan Belanda memuncak dengan dikeluarkannya larangan bersidang dan berkumpul bagi partai-partai politik, terutama PNI dan Partindo, pada Agustus 1933. Sebelumnya, 1 Juli 1933, Soekarno ditangkap kembali dan dibuang ke Ende, Flores. Maka, tertutuplah propaganda gerakan kemerdekaan secara lisan. Dalam kondisi ini, peran majalah Daulat Rakyat yang dikelola Syahrir. KIM yang disusun Hatta beserta 150 pertanyaannya yang terus menyebar ke ribuan anggota PNI, menjadi alat propaganda yang sangat penting.

Baca Juga: Kematian Sutan Syahrir

Syahrir Dimasukkan Penjara Cipinang

Melihat bahaya itu, pada 25 Februari 1934, Belanda menangkapi para pimpinan PNI di Bandung (13 orang) dan Jakarta. Termasuk Syahrir dan Hatta. Syahrir dimasukkan penjara Cipinang, dan Hatta di penjara Glodok. Pada 16 November 1934, Syahrir, Hatta, Bondan, Maskoen, Murwoto, dan Burhanuddin, dijatuhi hukuman buang ke Boven Digoel.

Pada Maret 1942 Syahrir dan Hatta dibebaskan oleh Jepang. Ini tidak membuat semangat mereka untuk merdeka surut. Syahrir memutuskan untuk menyusun gerakan rakyat bawah tanah melawan fasisme Jepang. Melalui radio gelap Syahrir terus memberikan informasi kepada Hatta dan jaringan-jaringan pejuang tentang perkembangan politik dunia. Dengan cara ini Syahrir ikut mengantarkan sekaligus meyakinkan para tokoh pejuang lain. Untuk memproklamasikan kemerdekaan RI pada 17 Agustus 1945.

Puncak Karir Politik Sutan Syahrir

Usai proklamasi, Sutan Syahrir memasuki kembali era perjuangan politik secara terbuka. Dalam sidang pleno Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP), 16 Oktober 1945, Syahrir terpilih sebagai ketua dan Amir Sjarifudin sebagai wakilnya. Keduanya diserahi untuk menyusun anggota Badan Pekerja KNIP. Dan, sebagai ketua, Syahrir ikut menetapkan garis-garis besar haluan negara dalam Manifes Politik 1 November 1945. Untuk melengkapinya, ia juga menyusun buku kecil "Perjuangan Kita".

Namun, sebagai ketua KNIP, keterlibatan Syahrir di dalam penyelenggaraan negara hanya sebatas bidang legislatif. Dan, ini membuat kepemimpinan negara kurang solid. Maka, diusulkanlah suatu bentuk pemerintahan kabinet parlementer yang dipimpin oleh seorang perdana menteri (PM). Presiden dan wakilnya -- Soekarno dan Hatta -- menyetujui usulan itu. Keduanya lantas menunjuk Syahrir sebagai formatur dan mengangkatnya sebagai PM. Dan, inilah puncak karir politik Sutan Syahrir kelahiran Padang Panjang, 5 Maret 1909, itu.