Cineam.net

Puasa Muharram : Tasu’a dan ‘Asyura

Puasa Muharram : Tasu'a dan 'Asyura - Muharram sebagai bulan yang disucikan atau bulan haram mengandung sejarah yang panjang. Tanggal 10 Muharram di kalangan umat Yahudi dikenal sebagai hari 'Asyura. Pelaksanaan puasa 'Asyura juga diakui dalam Islam dengan melakukan puasa sunnah di bulan Muharram pada tanggal 10 (sepuluh). 'Asyura berarti hari ke-10 bulan Muharram, sesuai kata dasarnya 'asyrah dan 'asyarah; yaitu 10.

Puasa Muharram : Tasu'a dan 'Asyura

Sedangkan istilah tasu'a atau hari ke-9 Muharram muncul dari keinginan Nabi Muhammad ﷺ. Menyempurnakan seruan puasa Muharram, setahun sebelum beliau wafat. Beliau merasakan keberatan para sahabat yang tidak ingin mencampurbaurkan tradisi Yahudi yang salah dengan tradisi Islam yang benar. Menanggapi keberatan ini, akhirnya beliau memerintahkan untuk puasa pada hari ke-9 Muharram di tahun depan.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ

Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, empat diantaranya adalah bulan haram (suci). Itulah agama yang lurus. (at-Taubah:36)

Abu Ghathafan bin Tharif al-Murri mengatakan: Aku mendengar Abdullah bin 'Abbas r.a. Berkata sewaktu Rasulullah ﷺ berpuasa pada hari 'Asyura dan memerintahkan agar berpuasa pada hari ini. Lalu para sahabat menjawab: Wahai Rasulullah! Itu adalah hari yang dibesarkan oleh orang Yahudi dan Nasrani! Lalu Rasulullah ﷺ bersabda:"Insya Allah pada tahun depan, kita akan berpuasa pada hari kesembilan(Muharram)." Puasa di tahun depan itu tidak pernah datang karena Rasulullah wafat sebelum itu. (H.R. Muslim, No. 1916 pada Mawsu'ah al-Hadits asy-Syarif).

Sikap dan jawaban Nabi dikategorikan oleh para fuqaha sebagai sunnah hammiyyah (anjuran yang diharapkan). Puasa 'Asyura sebelum Nabi wafat menunjukan kebolehan serupa dengan orang kafir dan ahli kitab dalam masalah tertentu. Asal tidak diikuti dengan niat ingin sama dengan mereka (tasyabbuh). Sikap Nabi ini juga menunjukkan hubungan yang kuat antara agama para Nabi.

Puasa Muharram

Hadits riwayat Muslim menjadi dalil bagi para fuqaha dalam menetapkan kesahan puasa sunnah Muharram dalam tiga bentuk, diantaranya:

  1. Puasa satu hari sebelum dan satu hari setelah 'Asyura, yaitu pada tanggal 9 dan 11 Muharram.
  2. Puasa pada hari 'Asyura (10 Muharram).
  3. Puasa dua hari pada tanggal 9 dan 10 Muharram dan inilah yang disebut puasa Tasu'a dan 'Asyura.

Umat Islam dapat memilih salah satu dari tiga alternatif ini. Meskipun indikasi Hadits lebih cenderung kepada yang ketiga (Ibnu al-Qayyim, Zad al-Ma'ad). Semangat menghilangkan keserupaan (tasyabbuh) dengan pengikut agama terdahulu. Telah mendorong para sahabat Nabi dalam Majlis Ahlu al-Hilli wa al-'Aqd (Majlis Permusyawaratan Rakyat). Tepatnya di zaman Khalifah 'Umar bi Khaththab (13-23 Hijriyah/634-644 Masehi). Untuk menjadikan Muharram sebagai bulan pertama tahun Hijrah.

Keputusan ini diambil lebih kurang 7 tahun setelah Nabi wafat atau 17 tahun setelah hijrah ke Madinah. Sebagai realisasi keinginan Nabi dan para sahabat. Didasarkan atas semangat iman, hijrah dan jihad. Keputusan ini lebih dititikberatkan pada dimensi 'Asyura bulan Muharram secara khusus. Seperti tersurat pada sunnah Nabi di atas serta Muharram atau hijrah secara umum.

'Asyura Bulan Buharram Tradisi Umat Nabi-nabi Terdahulu

Dengan ini, maka kekhawatiran keserupaan sikap dengan orang kafir dan ahli kitab dapat dihindari. Karena 'Asyura bulan Muharram pada dasarnya adalah tradisi umat Nabi-nabi terdahulu, yang juga berasal dari Allah ﷻ. Bangsa Yahudi sering dikatakan sebagai penggagas pertama perayaan 'Asyura. Sebagai simbul kemenangan atas rezim Fir'aun Mesir yang pernah memperbudak bangsa Yahudi.

Puncaknya adalah peristiwa Laut Merah. Di mana Fir'aun beserta pengikutnya mati tenggelam melawan kekuatan mu'jizat Nabi Musa yang mampu membelah laut berkat kekuasaan Allah ﷻ. Peristiwa ini adalah lambang kekalahan diktator ulung oleh kekuatan kecil yang tidak pernah diperhitungkan sebelumnya. Tetapi mendapat dukungan dari Allah ﷻ.

Ibnu 'Abbas berkata: Nabi ﷺ sampai di Madinah dan beliau melihat orang Yahudi berpuasa pada hari 'Asyura(Muharram). Lalu beliau bertanya: "Apa ini?" Mereka manjawab: "Ini adalah hari yang baik, hari Allah menyelamatkan Musa dan Bani Israel dari musuh-musuh mereka. Lalu Musa berpuasa pada hari ini." Nabi bersabda: "Akulah yang lebih berhak terhadap Musa daripada kalian!", Beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa. (H.R. al-Bukhari, No. 1865).

Awal Tradisi 'Asyura di Bulan Muharram

Dalam Hadits riwayat Ahmad ditemukan bahwa tradisi 'Asyura bulan Muharram sebenarnya telah dimulai sejak zaman Nabi Ibrahim a.s. Setelah pembangunan Ka'bah (Al 'Imran: 96). Fokus syari'at Nabi Ibrahim terhadap 'Asyura sepenuhnya ditujukan dalam rangka ibadah suci di tanah suci dan masjid suci. Pelaksanaan ibadah suci adalah pada bulan-bulan suci; yaitu Muharram, Rajab, Zulqa'dah dan Zulhijjah.

Zulqa'dah adalah bulan persiapan dan pemberangkatan jama'ah haji; Zulhijjah adalah bulan pelaksanaan haji; Muharram adalah bulan kembali ke negeri asal setelah melaksanakan haji di tanah suci; dan Rajab adalah bulan haji kecil atau 'umrah. Makkah dan seluruh tanah haram dinyatakan aman di mana tidak boleh terjadi pembunuhan, penumpahan darah, perampokan. Serta segala sesuatu yang menodai kesucian bulan-bulan dan tempat-tempat suci ini. Tradisi ini dipelihara oleh bangsa Arab sampai kedatangan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Nabi terakhir.

Penganut tauhid al-Hunafa (yang selalu menjaga kemurnian agama Allah), meminjam istilah Malek Bennabi. Sangat setia memegang kesepakatan perdamaian 'Asyura seperti di atas. Setiap kali kedatangan hari 'Asyuradi bulan Muharram, permusuhan dihentikan, pasar keramaian dibuka dan festival diadakan. Seluruh perayaan ini mendapat penjagaan ketat dari suku-suku Arab, terutama Quraisy, yang berdekatan dengan tanah suci.

Pihak yang berani melanggar kesucian tradisi Muharram ini akan dikucilkan dalam bidang bisnis dan pengurusan tempat suci. Ikrimah menceritakan bahwa suku yang terpaksa melanggar tradisi ini diminta untuk melakukan puasa 'Asyura(10 Muharram). Juga memberikan kiswah (baju Ka'bah) sebagai denda atau kaffarah.

Merusak Tradisi Suci 'Asyura Bulan Muharram

Sewaktu Nabi ﷺ diutus menjadi Rasul, beliau melihat distorsi terhadap tradisi suci sebagai diwarisi dari Nabi Ibrahim a.s. Banyak amalan di bulan Muharram yang mencampurbaurkan antara bid'ah dan khurafat. Misalnya menggunakan make-up gaya jahiliyyah (tabarruj al-jahiliyyah). Dan pesta pora yang mengarah kepada perilaku setan dan mubazir di bulan Muharram ini.

Diantara distorsi tersebut adalah larangan pernikahan pada bulan Muharram. Khususnya pada hari 'Asyura, yang dianggap mendatangkan kesialan. Dari tradisi yang telah mengalami distorsi inilah kemudian lahir peringatan 'Asyura yang bagi orang Jawa disebut Suro. Distorsi juga dilakukan di masa dinasti Buwaihiyyah di Persia di bawah pendirinya al-Mu'iz ad-Dawlah (321-356/933/966M).

Di zaman ini 'Asyura di bulan Muharram diperingati sebagai ekspresi kecintaan kepada cucu Nabi, Husen bin 'Ali (5-61 H/624-680). Yang terbunuh dalam satu peperangan di Karbala oleh pasukan Yazid bin Mu'awiyah (60-64 H/680-683M). Di hari tasu'a mereka berpuasa. Dan hari 'Asyura mereka gunakan untuk arak-arakkan di luar rumah dengan pakaian serba hitam sebagai tanda berduka cita.

Bagi pengikut Syi'ah hari 'Asyura bulan Muharram adalah hari duka cita. Simbul-simbul keceriaan dan kesenangan sedapat mungkin dijauhi dalam rangka untuk mendapatkan cinta ilahi (menurut klaim mereka). Karena itu, para pengikut Syi'ah di makam para syuhada, mereka melampiaskan rasa mahabbah kepada Tuhan. Dengan merobek-robek pakaian, menampar-nampar pipi, dada dan juga melukai diri sendiri.

Menghapus Tradisi Jahiliyyah di Bulan Muharram

Sebagai penyempurnaan ajaran Nabi-nabi terdahulu. Maka Rasulullah ﷺ berusaha mengikis habis mitos dan praktek jahiliyyah yang dapat mengotori kesucian agama suci dan tempat suci. Islam menghapus segala bentuk mitos dan praktek perayaan 'Asyura di bulan Muharram. Yang tidak sejalan dengan tradisi yang benar melalui berbagai cara.

Pertama adalah menyempurnakan tata cara puasa sunnah 'Asyura (10 Muharram) dengan salah satu cara diatas. Kedua adalah dengan menghapus praktek-praktek jahiliyyah berupa khurafat, bid'ah dan perbuatan mengada-ada dalam agama. Rasul ﷺ antara lain memesankan:

Tidaklah termasuk golongan kami orang yang menampar-nampar pipi, mengoyak-oyak kantong dan berteriak dengan teriakan jahiliyyah.(H.R. al-Bukhari)

Ketiga adalah dengan menjadikan iman, hijrah dan jihad sebagai landasan penanggalan hijrah sesuai kesepakatan para sahabat Nabi. Keempat adalah dengan memperbanyak amalan pendekatan diri kepada Allah. Melalui pengorbanan binatang ternak, infak, sedekah dan lain-lain untuk orang yang membutuhkannya. Mudah-mudahan dengan penjelasan singkat Puasa Muharram : Tasu'a dan 'Asyura ini menambah wawasan keagamaan kita.

Dilansir dari Buletin Dakwah
Drs. Syamsul Bahri Isma'il