Cineam.net

Ramadhan : Bulan Kebersamaan, Ampunan, Jihad dan Ibadah

Ramadhan merupakan bulan kebersamaan, juga ampunan, jihad, ibadah dan turunnya Al-Quran, serta manfaat puasa bagi kesehatan tubuh. Di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini, kaum muslimin menyambutnya dengan suka cita karena dahsyatnya keutamaan Ramadhan ini. Baik mereka yang miskin maupun yang kaya. Orang miskin menyambut bulan Ramadhan karena ia akan mendapat kucuran rezeki dari orang kaya. Baik melalui zakat, sedekah, infak maupun pengeluaran lainnya. Sementara itu, orang kaya menyambut bulan Ramadhan dengan penuh bahagia. Karena ia dapat menghilangkan skat-skat kelas di tengah masyarakat. Dengan menghadap ke Kiblat yang sama ketika mendengar adzan fajar, dan berbuka bersama ketika adzan maghrib mengudara dari menara masjid.

Ramadhan : Bulan Kebersamaan, Ampunan, Jihad dan Ibadah

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ.أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ

"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kalian berpuasa, sebagaimana diwajibkan kepada orang sebelum kalian agar kalian menjadi orang yang bertakwa; (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Barangsiapa diantara kalian yang menderita sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajib baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Bagi orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) adalah membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang mengerjakan dengan kerelaan hati, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahuinya." (al-Baqarah:183-184)

Ramadhan Bulan Kebersamaan

Kebersamaan yang terjadi pada bulan Ramadhan itu merupakan karunia Allah. Tidak ada ajaran atau pemikiran yang dapat menyatukan persepsi atau kesamaan di antara kelas-kelas yang terdapat di tengah masyarakat selain ketentuan hukum Allah ﷻ. Pada bulan Ramadhan seperti bulan-bulan lainnya, orang beriman sama-sama menjalankan kewajiban ibadah kepada Allah ﷻ. Di samping kewajiban puasa, juga terdapat kewajiban ekonomi. Seperti zakat fitrah, uang dan berbagai zakat lainnya yang termasuk dalam kategori kewajiban pihak yang kaya terhadap orang miskin.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَنْفِقُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا كَسَبْتُمْ وَمِمَّا أَخْرَجْنَا لَكُمْ مِنَ الْأَرْضِ ۖ وَلَا تَيَمَّمُوا الْخَبِيثَ مِنْهُ تُنْفِقُونَ وَلَسْتُمْ بِآخِذِيهِ إِلَّا أَنْ تُغْمِضُوا فِيهِ ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ غَنِيٌّ حَمِيدٌ

"Wahai orang-orang yang beriman! Nafkahkanlah (di jalan Allah) sebagian dari hasil usaha kalian yang baik-baik dan sebagian dari apa yang Kami keluarkan dari bumi untuk kalian. Janganlah kalian memilih yang buruk-buruk untuk diinfakkan, padahal kalian sendiri tidak mau mengambilnya. Ketahuilah, bahwa Allah Maha Kaya, Maha Terpuji." (al-Baqarah: 267)

Penyatuan itu tidak terbatas pada yang wajib saja, tetapi juga pada yang sunnat. Rasulullah ﷺ menganjurkan untuk saling berbagi santapan berbuka puasa Ramadhan. Baik bagi orang miskin, para musafir, maupun lainnya yang disentralisasikan di masjid. Untuk dinikmati bersama dalam acara buka puasa bulan Ramadhan yang diteruskan dengan shalat berjama'ah.

Puasa sunnah ataupun di bulan Ramadhan sebagai ibadah tidak terbatas pada kewajiban hamba terhadap Khaliq semata. Tetapi juga telah menyatu dengan ibadah-ibadah sosial yang lain. Ia telah menyatukan persepsi di antara berbagai jenis warna kulit, suku dan kabilah manusia yang hidup di permukaan bumi ini. Mereka bersatu di bawah ketentuan Allah ﷻ dan Rasul-Nya, mencari ridha Allah dan menyusun kekuatan komunitas muslim yang tangguh. Dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk tantangan kemiskinan yang menjerat leher kebanyakan umat dewasa ini.

Diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak.Bahwa Mu'awiyah bin Abi Sofyan mengirim uang untuk 'Aisyah, ummu al-mu'minin, sebanyak delapan puluh ribu dirham. Sementara itu 'Aisyah dalam keadaan puasa. Uang tersebut seluruhnya kemudian dibagi-bagikan 'Aisyah kepada fakir miskin. Pembantu 'Aisyah bertanya: Wahai ummu al-mu'minin, apakah anda tidak mampu membelikan sepotong daging untuk berbuka puasa kita?", 'Aisyah Menjawab: "Wahai anakku, kalau kamu ingatkan sebelumnya, niscaya aku akan melakukannya."

Ramadhan Bulan Ampunan

Ramadhan juga merupakan bulan ampunan, saat Allah ﷻ membuka kesempatan kita untuk menebus berbagai kesalahan yang telah kita lakukan dengan banyak-banyak memohon ampunan dan perbanyak istighfar, sebagaimana Allah ﷻ berfirman :

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui" (QS. Ali Imron: 135)

Yang dimaksud perbuatan keji (faahisyah) ialah dosa besar yang mana mudharatnya tidak hanya menimpa diri sendiri tetapi juga orang lain. Seperti zina dan riba. Menganiaya diri sendiri ialah melakukan dosa yang mana mudharatnya hanya menimpa diri sendiri baik yang besar atau kecil. Manusia merupakan tempat khilaf dan lupa. Sehingga salah satu sifat orang-orang sholeh adalah senantiasa meminta taubat dan istighfar dari setiap dosa dan kembali kepada Allah ﷻ.

Ibunda A’isyah RA menggambarkan tentang : "Berbahagianya bagi siapa saja yang menjumpai lembar catatannya penuh dengan istighfar". Dalam keutamaan yang lain Qatadah mengatakan, "Sesungguhnya Al-Quran ini menunjuki kalian obat dan penyakit kalian. Adapun penyakit kalian adalah dosa-dosa. Adapun obatnya kalian adalah istighfar". Al-Hasan lebih menekankan kepada kita tentang istighfar : "Perbanyaklah istighfar di rumah-rumah kalian, disaat menikmati hidangan, di jalan-jalan pasar, dan di majelis-majelis kalian. Sesungguhnya kalian tidak mengetahui dimanakah ampunan itu akan turun".

Perbanyaklah istighfar pada malam-malam terakhir pada bulan ramadhan, karena bila tiba akhir malam ramadhan, mudah-mudahan Allah ﷻ mengampuni dosa-dosanya. Dalam perbincangan dengan A’isyah, Rasulullah ﷺ berkata : "Sesungguhnya syetan itu masuk ke dalam tubuh anak Adam mengikuti jalan darahnya. Maka sempitkanlah jalan darah itu dengan lapar". Kemudian berkata lagi, "Sering-seringlah mengetuk pintu surga". Dengan apa ya Rasulullah, tanya A’isyah ? "Dengan rasa lapar" jawab Rasulullah ﷺ.

Akankah kita sia-siakan kesempatan di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Ramadhan tamu mulia yang menawarkan banyak keberkahan serta kemuliaan kepada setiap pribadi muslim. Insya Allah dengan banyak menggali dan mengkaji kekayaan berupa Ilmu Allah di bulan ramadhan, kita berusaha meraih ridho-Nya dan keluar dari bulan pembinaan ini dengan predikat taqwa.

Ramadhan Bulan Jihad

Sejarah membuktikan bahwa jihad di perang badar pecah pada tanggal 17 Ramadhan. Kesatuan dan kesamaan tujuan itu telah membuat umat Islam kuat dalam menghadapi berbagai persoalan yang dihadapi. Umat Islam memperoleh kemenangan yang gemilang melawan kafir Quraisy dalam peperangan yang dahsyat di bulan Ramadhan itu. Rasulullah ﷺ bersabda:

Sesungguhnya Allah telah memberi kemenangan kepada Mujahid Badar. Ia (Allah) berfirman kepada mereka: "Kerjakan apa yang kalian inginkan Aku telah mengampunkan kalian."

Pada bulan Ramadhan tahun kedelapan Hijriyah, tentara muslim berhasil menaklukan kota Makkah. Di mana sebelumnya umat Islam terusir dari kota ini karena kebiadaban orang kafir Quraisy. Pada  tahun itu mereka kembali dengan semangat jihad yang kuat. Didukung iman dan keyakinan yang kokoh, di bawah kepemimpinan Rasulullah ﷺ.

Sekalipun dahulunya mereka diancam sehingga harus meninggalkan negeri leluhur, tetapi umat Islam tidak merasa dendam. Malah orang kafir Quraisy mendapat kemaafan dari Rasulullah ﷺ yang sangat populer dalam sabda beliau: "Pergilah sesuka hati! Sekarang kalian bebas."

Sejarah keemasan umat Islam banyak tercatat di bulan Ramadhan. Pahlawan agung Thariq bin Ziyad atas perintah dari Gubernur Musa bin Nusair di Afrika Utara telah menembus belahan Eropa untuk berda'wah. Thariq bahkan menjelaskan kepada para tentaranya untuk tidak akan kembali lagi ke negara asal mereka sebelum da'wah dan masyarakat muslim terwujud. Ia telah berhasil menyebarkan jihad da'wah di Spanyol dan di belahan bumi Eropa lainnya.

Kepiawaian jihad Salahuddin Al-Ayyubi mengusir tentara salib Eropa dari masjid Aqsa dan dari negara-negara Arab Islam lainnya juga berlangsung di bulan Ramadhan. Dalam perang yang dahsyat itu, menurut catatan sejarah, genangan darah manusia di Masjid Aqsa digambarkan telah mencapai leher kuda. Inilah bentuk kebiadaban perang yang diprakarsai oleh Eropa.

Sungguhpun demikian, umat Islam tetap kokoh menghadapi penjajahan Barat di bawah naungan syari'at Allah ﷻ. Puasa Ramadhan yang merupakan pendidikan untuk mewujudkan kesehatan fisik dan jiwa yang prima, menjadi pendorong utama dalam kesiapan berjihad demi agama Allah, yang Maha Benar di atas segala-galanya.

Jihad tidak hanya tercatat dalam syari'at dan sejarah, tetapi harus tetap berlaku dan menjadi cita-cita suci bagi setiap muslim. Apalagi di zaman ini, kejahatan dan tindak kebiadaban terhadap umat Islam tambah merajalela. Seperti di Palestina, Suriah, Rohingya dan negeri-negeri lainnya. Karena itu merupakan cambuk bagi umat untuk mengibarkan bendera jihad dalam menegakkan kebenaran dan memusnahkan kebatilan. Sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ: "Perangilah hawa nafsumu sebagaimana engkau berjihad terhadap musuhmu."

Ramadhan Bulan Ibadah

Ramadhan tidak lepas dengan namanya puasa dan tarawih, tapi alihkan juga perhatian kita dengan ibadad-ibadah fardhu dan nafil. Yaitu pahala bagi satu amalan nafil di bulan Ramadhan sama dengan pahala mengerjakan amalan fardhu pada bulan lainnya. Juga pahala bagi satu amalan fardhu di bulan Ramadhan menyamai pahala melaksanakan 70 amalan fardhu di bulan yang lain. Disini penting sekali bagi kita untuk memikirkan ibadah-ibadah kita. Berapa banyak perhatian kita terhadap pelaksanaan ibadah-ibadah fardhu di bulan Ramadhan ini. Juga berapa banyak peningkatan serta penambahan dalam ibadah-ibadah nafil kita di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini.

Sebagai contoh sikap kita terhadap amalan-amalan fadhu di bulan Ramadhan, yaitu dalam sholat shubuh. Biasanya, setelah makan sahur kita tidur lagi. Sehingga banyak diantara kita yang melakukan shalat shubuh secara qadha, minimal sering tertinggal sholat shubuh berjamaah. Seharusnya mensyukuri nikmat makan sahur itu dibuktikan dengan menunaikan kewajban yang paling penting. Tetapi malah kita abaikan dengan cara mengqadhanya. Ataupun kurang sempurna dalam mengerjakannya yaitu sholat munfarid atau sholat di rumah secara sendiri. Padahal ahli-ahli ushul telah menetapkan mengenai kurang sempurnanya shalat yang di kerjakan tanpa berjamaah. Begitu juga pernyataan Rasulullah ﷺ dalam suatu riwayat bahwa tidak sempurna shalat bagi orang yang tinggal berdekatan dengan masjid, kecuali di masjid.

Dalam kitab Mazhahirul haq kita mendapati, apabila seseorang tidak memiliki alasan yang kuat untuk tidak shalat berjamaah, maka dia tidak akan mendapatkan pahala sholat, walaupun kewajibannya telah gugur. Begitupun mengenai sholat-sholat wajib lainnya di bulan Ramadhan, misalnya sholat maghrib, kita sering meninggalkan berjamaah di masjid karena alasan berbuka puasa Ramadhan. Jangan ditanya mengenai Takbiratul Ula (Takbir Pertama), bahkan sampai tertinggal rakaat pertama. Begitu juga shalat Isya di bulan Ramadhan, banyak orang yang melaksanakan sebelum waktunya dan menganggapnya sebagai pengganti kebaikan-kebaikan dalam shalat tarawih.

Inilah keadaan shalat fardhu kita di bulan Ramadhan yang penuh berkah. Hanya karena ingin melaksanakan satu amalan fardhu, kita telah menyia-nyiakan 3 amalan fardhu lainnya. Kelalaian kita terhadap shalat fardhu umumnya terjadi pada 3 waktu ini. Bahkan bukan di 3 waktu itu saja, kita dapat melihat shalat zuhur pun sering tertinggal berjamaah karena tidur siang (qilullah). Juga shalat ashar karena sibuk membeli dan mempersiapkan aneka macam makanan untuk berbuka puasa Ramadhan. Begitu juga tentang kewajiban-kewajiban lainnya. Hendaknya kita berfikir, berapakah yang kita kerjakan dengan sungguh-sungguh di bulan Ramadhan yang penuh berkah ini. Jika amalan yang fardhu saja keadaanya seperti itu, maka bagaimana dengan yang sunnah?

Ibadah di bulan Ramadhan juga tidak hanya terbatas pada menahan diri dari makan dan minum serta nafsu syahwat. Tetapi lebih dari itu, yang meliputi puasa, salat tarawih, tilawah Qur'an dan dzikir. Belajar untuk menambah wawasan dan lain-lain di bulan Ramadhan. Ibadah tilawah (membaca) Qur'an mempunyai keterkaitan yang sangat erat dengan bulan Ramadhan.

Sedikit-demi sedikit, lama-lama jadi bukit. Ungkapan ini mungkin sangat cocok bagi kita untuk belajar mengamalkan agama, khususnya di bulan Ramadhan. Step by step tapi istiqomah mungkin lebih baik daripada tidak sama sekali. Mungkin kita semua tahu apa yang namanya Shalat isyraq dan dhuha. Kita manfaatkan bulan Ramadhan dengan belajar mengamalkan agama, dengan belajar mengamalkan Shalat isyraq dan dhuha, begitupun sholat awabin.

Hilangkan sifat ketidakpedulian dan kemalasan di bulan Ramadhan ini. Selama Allahmasih memberi kita kesempatan untuk bertemu dengan bulan suci Ramadhan ini. Bulan istimewa yang pahala ibadah wajib di dalamnya bernilai 70 kali lipat dari bulan-bulan lainnya. Bulan penuh barokah yang pahala ibadah sunnah di dalamnya senilai dengan ibadah wajib. Dengan memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan sebagai ladang amal yang akan kita petik hasilnya di Kampung Akherat kelak. Jangan sampai kita menjadi orang yang rugi.

Di bulan Ramadhan ini kita juga bisa belajar untuk menundukan pandangan. Dalam artian kita berusaha menjaga pandangan ini selalu terjaga dari segala hal yang tidak halal dilihat. Segala yang haram itu berpotensi untuk melalaikan dari dzikrullah, terutama di bulan Ramadhan. Selain itu kita harus pandai-pandai menjaga lisan dari perkataan yang tidak di ridhoi Allah ﷻ. Seperti dusta, ghibah, bergunjing, memaki, bertengkar, banyak bergurau, berdebat serta segala hal yang menyebabkan kebencian dan permusuhan. Kendalikan dengan diam dan lebih utama dengan dzikrullah.

Di bulan Ramadhan ini kita juga harus bisa menjaga telinga dari mendengar perkataan dan pembicaraan yang di benci Allah ﷻ. Setiap yang haram diucapkan, haram pula untuk didengarkan. Allah ﷻ berfirman :

“Mengapa orang-orang alim mereka, pendeta-pendeta mereka tidak melarang mereka mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sesungguhnya amat buruk apa yang telah mereka kerjakan itu.” (Al-Maidah 63)

Disamping itu juga dengan membiarkannya ghibah maka perbuatan itu pun dilarang, apa lagi di bulan Ramadhan ini. Sebagaimana dalam Al-Quran Allah ﷻ berfirman :

“Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam.” (An-nisa 140)

Di bulan Ramadhan juga kita harus bisa menahan setiap anggota tubuh kita dari berbuat dosa. Hindari tangan, kaki, dan semua panca indera lainnya dari yang di haramkan walaupun telah berbuka puasa kecuali yang di halalkan. Supaya puasa Ramadhan tidak sia-sia maka kita jangan makan berlebih-lebihan ketika berbuka puasa. Sebab, seburuk buruknya wadah adalah perut yang penuh makanan.

Alangkah baiknya apabila puasa Ramadhan kita selalu ada perasaan “Tergantung dan Terguncang”. Antara cemas dan harap. Sebab kita tidak tahu apakah puasa Ramadhan kita di terima Allah ﷻ sehingga termasuk orang-orang muqarrabin, atau di tolak sehingga termasuk orang-orang yang di murkai. Hindari juga perkataan berbohong, karena perbuatan itu sangat dilarang dalam agama. Sebagaimana dalam hadits telah dijelaskan:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

"Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan". (HR. Bukhari no. 1903)

Para ulama jumhur telah sepakat bahwa pelarangan berdusta dalam hadits diatas adalah haram, tetapi bukan termasuk pembatal puasa. Yang membatalkan puasa hanyalah makan, minum, dan  hubungan intim suami istri pada siang hari. Dampak jelek berbohong ini ada beberapa macam diantaranya.

1. Berdusta mengantarkan pada sifat jelek yang lainnya

Dari Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah ﷺ bersabda,

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِى إِلَى الْبِرِّ وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِى إِلَى الْجَنَّةِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَصْدُقُ وَيَتَحَرَّى الصِّدْقَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِى إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِى إِلَى النَّارِ وَمَا يَزَالُ الرَّجُلُ يَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

"Hendaklah kalian senantiasa berlaku jujur karena sesungguhnya kejujuran akan mengantarkan pada kebaikan dan sesungguhnya kebaikan akan mengantarkan pada surga. Jika seseorang senantiasa berlaku jujur dan berusaha untuk jujur, maka dia akan dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Hati-hatilah kalian dari berbuat dusta, karena sesungguhnya dusta akan mengantarkan kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan pada neraka. Jika seseorang sukanya berdusta dan berupaya untuk berdusta, maka ia akan dicatat di sisi Allah sebagai pendusta." (HR. Muslim no. 2607).

2. Dusta akan membuat Jiwa gelisah

Dari Al-Hasan bin ‘Ali, Rasulullah ﷺ bersabda:

دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لاَ يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ

"Tinggalkanlah yang meragukanmu pada apa yang tidak meragukanmu. Sesungguhnya kejujuran lebih menenangkan jiwa, sedangkan dusta akan menggelisahkan jiwa." (HR. Tirmidzi no. 2518 dan Ahmad 1: 200. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih).

3. Berdusata merupakan tanda-tanda munafik

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi ﷺ bersabda:

آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

"Ada tiga tanda munafik: jika berkata, ia dusta; jika berjanji, ia mengingkari; dan jika diberi amanat, ia khianat." (HR. Bukhari no. 33)

Bulan Turunnya Al-Quran

Qur'an diturunkan pada bulan Ramadhan, sehingga disebut dengan malam Lailatul Qadar. Yaitu malam di mana Allah menurunkan wahyu-Nya pertama kali pada junjungan kita Rasulullah ﷺ. Beliau diperintahkan:

"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Ia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Maha Pemurah. Tuhan yang mengajar manusia melalui kalam. Ia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya." (al-'Alaq:1-5)

Ibadah membaca Qur'an di bulan Ramadhan dilakukan dengan bacaan yang benar, baik tajwid, makhraj huruf. Yang paling penting yaitu memahami makna dari setiap apa yang dibaca. Dengan demikian, akan terjadi komunikasi terhadap apa yang dibaca. Apabila penjelasan-penjelasan Qur'an itu dapat dipahami, maka ia akan menjadi petunjuk dalam semua sikap dan tindakan.

Firman Allah tentang makna dari Qur'an itu sendiri:

"Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan yang berisikan petunjuk dan pembeda (antara yang hak dengan yang batil)." (al-Baqarah:185)

Apabila Qur'an dijadikan petunjuk dalam hidup dan kehidupan, maka kita akan selamat dari dunia sampai ke akherat. Sesuai dengan jaminan yang diberikan Rasulullah ﷺ:

"Aku tinggalkan kepada kalian dua hal, yang jika kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan sesat selama-lamanya, yaitu Qur'an dan Sunnahku."

Dengan petunjuk Qur'an dan Sunnah Rasulullah ﷺ, maka ibadah puasa Ramadhan kita akan diterima oleh Allah. Dimasukkan ke dalam surga Na'im. Mudah-mudahan ibadah puasa Ramadhan kita dapat terlaksana dengan baik sesuai dengan tuntunan Qur'an dan Sunnah. Di mana puasa bukan semata menahan diri untuk tidak berkata bohong, berbuat kebatilan dan perbuatan-perbuatan kotor lainnya. Apabila ibadah ini dapat dilakukan dengan sempurna, maka kita akan tergolong orang-orang yang dijanjikan Allah di dalam Hadits Qudsi yang artinya:

"Semua pekerjaan anak-cucu Adam adalah untuk dirinya kecuali puasa, sesungguhnya puasa adalah untuk-Ku dan Akulah yang akan memberi imbalan!"

Manfaat Puasa

Puasa di bulan Ramadhan memiliki manfaat yang sangat luar biasa bagi kesehatan tubuh. Sebagaimana riset mengejutkan menurut para ilmuwan dari berbagai negara. Setiap menjalankan ibadah puasa, organ-organ badan kita bisa beristirahat serta miliaran sel bertahan hidup. Puasa berperan juga sebagai detoksifikasi buat keluarkan kotoran, racun dari badan kita. Memperbaharui beberapa sel serta mengganti sel badan yang rusak dengan yang baru dan memperbaiki hormon.

Kulit menjadi sehat serta meningkatkan ketahanan tubuh lantaran manusia memiliki kekuatan therapy alamiah. Dengan berpuasa di bulan Ramadhan atau bulan lainnya bisa bikin kulit jadi fresh, sehat, lembut, serta berseri. Glikogen adalah tempat penyimpanan cadangan energi pada setiap manusia. Selama 25 jam penyimpanan cadangan daya itu bisa bertahan. Cadangan gizi tersebut setiap saat dibakar jadi energi, bila badan tak memperoleh suplai pangan dari luar.

Ketika kita puasa di bulan Ramadhan atau puasa sunah di bulan lainnya, pernapasan secara lancar dan sel penyimpanan pada organ badan kita akan di keluarkan, ini disebut pembaharuan sel. Dengan memperbaharui beberapa sel badan, bakal berguna supaya meningkatkan kekebalan kesehatan badan dan kulit kita. Oleh karenanya, orang yang kerap berpuasa kulitnya bakal tampak makin fresh, sehat, lembut, serta berseri. Lantaran sistem peremajaan sel dalam badannya berjalan dengan baik.

Sebagian Ilmuwan sudah melakukan sebagian riset perihal puasa, salah satunya Allan Cott, M. D. Dia adalah seorang pakar dari Amerika, sudah mengumpulkan hasil penilaian serta riset beberapa ilmuwan dari berbagai negara. Lantas menghimpunnya dalam suatu buku Why Fast yang memaparkan beragam hikmah puasa, diantaranya :

  • To feel better physically and mentally (terasa semakin baik dengan cara fisik serta mental).
  • To look and feel younger (kelihatan terasa lebih muda).
  • To clean out the body (bersihkan tubuh).
  • To lower blood pressure and cholesterol levels (turunkan tekanan darah serta kandungan lemak.
  • To get more out of seks (makin dapat mengatur sex).
  • To let the body health itself (bikin tubuh sehat dengan sendirinya).
  • To relieve tension (mengendorkan ketegangan jiwa).
  • To sharp the senses (menajamkan fungsi indrawi).
  • To gain control of oneself (dapat mengatur diri sendiri).
  • To slow the aging process (memperlambat sistem penuaan).

Sekian penjelasan singkat terkait Ramadhan yang merupakan bulan kebersamaan, ampunan, jihad, ibadah dan turunnya Al-Quran. Mudah-mudahan semua amalan ibadah puasa Ramadahan kita diterima Allah ﷻ. Juga diberi kemudahan dan kekuatan untuk selalu istiqomah dalam menjalani ibadah puasa di bulan Ramadhan ini. Aamiin