Cineam.net

Sutan Sjahrir, PKI dan Soekarno

Sutan Sjahrir berpandangan, kunci kekuatan penjajah terletak pada dua kutub paradigma, yaitu rasional-modernisme dan fasisme. Gerakan penjajahan asing dibangun dengan landasan pikir rasional dan diarahkan pada tujuan modernisasi. Juga dengan didukung dengan kekuatan fasisme yang sekaligus memanfaatkan antek-anteknya di bumi jajahan. Oleh karena itu, menurut Sutan Syahrir, pergerakan rakyat menentang penjajahan sebenarnya menentang feodal-birokrasi. Juga otokrasi dan fasisme sebagai musuh utama kemerdekaan dan nasionalisme.

Sutan Sjahrir

Sutan Sjahrir

Dalam upaya menyusun segala tenaga untuk melancarkan revolusi secara tepat dan teratur. Sejak awal Sutan Sjahrir sudah menyadari urgensi partai sebagai wadah perjuangan. Sutan Syahrir berpendapat, pimpinan harus dapat mewujudkan balatentara berbenteng ideologi dan ilmu pengetahuan dalam sebuah partai revolusioner, modern, dan efisien. Partai yang sedemikian ini harus dapat mengurus segala kekuatan masyarakat yang akan berjuang. Menerapkan strategi dan taktik serta menggunakan segala sarana dan senjata perjuangan. Senjata yang dimaksud oleh Syahrir terutama adalah pikiran dan diplomasi.

Lebih jauh Syahrir melihat bahwa sukses dalam merebut kemerdekaan tidak semata-mata ditentukan oleh wadah pergerakan saja. Melainkan juga pengorganisasian segala potensi masyarakat baik dari kalangan petani, kaum buruh dan para pemuda. Sutan Syahrir berpandangan, bukan hanya serdadu yang dapat memenangi revolusi melainkan seluruh komponen masyarakat. Di antara komponen tersebut, angkatan muda perlu diorganisir dalam partai dan harus mampu tampil dalam kedudukan memimpin.

Angkatan muda dapat menjadi laskar pelopor dari partai yang memimpin perjuangan. Keliru sama sekali orang yang mengira para pemuda yang tergabung dalam barisan ketentaraan dapat memimpin revolusi kita. Sebab perjuangan kita bukan melulu perjuangan fisik melainkan lebih merupakan perjuangan diplomatik,'' ujar Sutan Sjahrir pada suatu kesempatan.

Dalam masa revolusi, setiap pemimpin memiliki pandagannya sendiri-sendiri mengenai bagaimana menghentikan atau mengalahkan penjajahan. Soekarno, misalnya, selalu mengupayakan agar persatuan Indonesia ditegakkan. Kalangan Islam pada saat itu menegakkan persatuan dengan cara mendirikan laskar-laskarnya yang berani mempertaruhkan jiwa raga. Yang menyimpang waktu itu hanyalah Partai Komunis Indonesia (PKI) yang memberontak pada September 1948.

Baca Juga: Kiprah Politik Sutan Syahrir

Perselisihan Sutan Sjahrir dan PKI

Pemberontakan PKI mempunyai dampak lain. Beberapa pemimpin yang semula berjuang bersama Soekarno dipinggirkan. Seperti Sutan Sjahrir, Soebadio Sastrosatomo, serta Mochtar Lubis. Perselisihan di antara sejumlah pemimpin bangsa pun semakin meluas sejak peristiwa itu. Perselisihan antara Sjahrir dan PKI pun tak terelakkan. Sutan Syahrir menilai pola gerakan PKI kontra-produktif terhadap hikmah kemerdekaan.

Sejak awal Sjahrir dikenal sebagai perintis 'Sosialis-Kanan' yang berseberangan dengan garis politik PKI. Ia menghendaki kemerdekaan RI dengan menghindarkan segala potensi konflik. Baik sesama warga Indonesia maupun kekuatan asing. Penderitaan rakyat selama 350 tahun di bawah penjajahan asing dianggapnya sudah lebih dari cukup. Oleh karena itu, Sjahrir menghendaki kemerdekaan diisi dengan ketentraman dan pemajuan kesejahteraan umum. Segala bentuk perselisihan apalagi yang menimbulkan bentrokan fisik harus dicegah.

Sutan Syahrir tidak menghendaki bangsa ini membenci bangsa asing dan menempuh cara-cara kekerasan, meskipun bangsa ini sekian lama telah di jajah. Citra positif tentang Indonesia harus diupayakan dengan secara sungguh-sungguh. Agar kapital asing tidak segan masuk ke Indonesia, untuk mengisi kemerdekaan.

Kesejahteraan sosial, baginya, mustahil dapat diupayakan tanpa melibatkan kapital asing. Apalagi kondisi bangsa Indonesia saat itu baru merdeka. Mereka miskin dalam kapital dan miskin pula dalam ketrampilan. Yang selalu melintas dalam benak Sjahrir: bagaimana caranya memenangkan dukungan dunia internasional untuk mewujudkan kesejahteraan sosial.

Dengan terciptanya kondisi domestik yang aman dan citra tentang Indonesia di luar negeri yang positif. Kemakmuran bangsa Indonesia akan dapat diupayakan dan ditingkatkan. Sutan Syahrir berpendapat, pemenangan perjuangan harus ditempuh dengan cara yang dapat mengambil simpati. Tidak hanya dari bangsa sendiri melainkan juga dari luar negeri, utamanya negara yang punya kapital.

Bagi sebagian kalangan, pikiran Syahrir seperti itu sulit diterima. Arus pikiran yang kuat berkembang pada saat itu adalah penonjolan kepentingan kelompok. Serta ego dan ambisi kekuasan yang tidak jarang kemudian menimbulkan perselisihan. Itulah sebabnya, Sutan Sjahrir pun kemudian berseberangan pikiran dengan Soekarno.

Baca Juga: Sutan Syahrir: Renungan dan Perjuangan

Perselisihan Sutan Sjahrir dan Soekarno

Perselisihan Sutan Sjahrir dan Soekarno dapat ditemukan akarnya sejak zaman Belanda. Ketika Sutan Syahrir merealisasikan gagasannya yang kontroversial untuk ukuran pada masa itu. Terdorong oleh pandangan. Bahwa partai-partai dengan pimpinan karismatik seperti Partindo tidak sesuai untuk membangun gerakan nasionalis. Karena mudah dilumpuhkan penjajah Belanda dengan memenjarakan pimpinan karismatik tersebut.

Maka Syahrir dan Hatta membentuk kelompok kecil kaum nasionalis yang sadar politik. Mereka lebih percaya pada pembentukan kader terpilih dari sejumlah orang terdidik. Guna mencapai kedewasaan politik dan pemahaman nasionalisme. Daripada sejumlah kecil tokoh kunci di pucuk pimpinan. Gagasan dan gerakan ini dirasakan berbahaya oleh Soekarno yang sedang kian bergiat membangun karisma.

Karena perbedaan pendapat ini sifatnya mendasar, bersinggungan secara asimetral dengan kepentingan kepemimpinan. Maka timbullah keretakan serius dalam hubungan antara Syahrir dan Presiden Soekarno. Yang semakin lama kian cenderung menganggap teori yang dikemukakan Sutan Syahrir sebagai cara untuk menjatuhkan karismanya secara politis. Kesenjangan ini terus melebar dengan saling tuduh-menuduh antara keduanya, dan berakhir dengan penyingkiran Sutan Syahrir dari percaturan politik.

Baca Juga: Bung Kecil Sutan Syahrir

Puncak Perselisihan Sutan Sjahrir dan Soekarno

Perselisihan Sutan Sjahrir dengan Soekarno mencapai puncaknya. Ketika ia dengan sejumlah tokoh nasional mengikuti upacara Ngaben ayah dari Putra Agung Gede Agung di Bali. Oleh Presiden Soekarno, Sutan Syahrir dituduh sebagai telah melakukan makar. Dengan mengadakan pertemuan politik di Bali yang bertujuan untuk merongrong kekuasaan pemerintahannya. Atas dasar tuduhan ini Syahrir ditahan.

Sejak itu pemerintah Soekarno mengawasi dengan ketat siaran pers, radio, dan lembaga pendidikan. Malah, buku Mohammad Hatta dengan berjudul "Demokrasi Kita", yang menganjurkan bangsa Indonesia berdemokrasi seperti yang dicita-citakan UUD '45, diberangus. Juga, langkah-langkah Hatta lainnya dihambat.

Sejak lama Sutan Sjahrir dan Hatta berjuang bersama. Di Belanda keduanya aktif bekerjasama dalam Himpunan Pelajar Indonesia. Sepulang ke Indonesia, keduanya mendirikan organisasi yang diberi nama Club Pendidikan Nasional Indonesia. Sutan Syahrir menyerahkan jabatan ketua organisasi kepada Hatta. Kehangatan dan keakraban antara keduanya selama itu barangkali yang menjadi pendorong Hatta untuk memberikan pembelaan kepada Sutan Syahrir. Ketika ia dituduh makar sehingga ia dipenjara oleh Soekarno.

Melihat perjalanan seperti ini seolah-olah jasanya selama revolusi dan kemerdekaan tidak ada artinya sama sekali. Jasa-jasanya dengan begitu mudah dilupakan. Pikiran-pikirannya tentang pemenangan kemerdekaan dengan pihak-pihak asing dan juga tentang urgensi aksi pemuda untuk melawan penjajah seperti tak pernah ada.

Sementara itu, para petualang politik yang hanya sekadar membonceng pada kekuasaan dan ketenaran Soekarno malah mendapatkan angin untuk mengisi kedudukan. Di antara mereka berasal dari kader-kader Partai Komunis Indonesia (PKI). Ketika masa Demokrasi Terpimpin sedang mencapai klimaksnya dan Soekarno menjalankan ideologi Nasakom (Nasional-Agama-Komunis). Unsur-unsur Partai Komunis Indonesia (PKI) banyak menyusup ke lingkaran kekuasaan pada waktu itu.

Baca Juga: Puncak Karir Politik Sutan Syahrir

Akhir Kisah Sutan Sjahrir

Kisah tentang Sutan Sjahrir pada akhirnya bukanlah kisah yang menggembirakan (unhappy ending). Seorang yang cerdik dan cakap seperti Sutan Syahrir tidak diberi kesempatan untuk berbakti secara masksimal kepada bangsanya. Pada saat kemerdekaan penuh telah diraih dengan susah-payah. Seorang yang kaya dengan gagasan segar. Selama bergelut dengan revolusi dan pengisian kemerdekaan republik Indonesia bagi kesejahteraan jutaan rakyat. Akhirnya menjalani hidupnya sebagai tahanan.

Inilah sebuah ironi, seorang pengabdi yang begitu humanis dan pemimpin sosialis besar yang pernah dimiliki bangsa ini. Harus menderita di tangan negara yang sudah dibantunya berdiri tegak. Dan yang telah menyumbangkan pikiran-pikiran tentang kemanusiaan yang adil dan beradab. Serta kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia sebagai bagian dari dasar-dasar negaranya. Sutan Sjahrir akhirnya meninggal dunia di Swiss, pada tahun 1967, dalam status sebagai tahanan. Ia Sutan Syahrir diperbolehkan berobat ke Swiss setelah Soekarno jatuh dari singgasana kekuasaan.

Baca Juga: Kematian Sutan Syahrir