Cineam.net

Tempat Wisata di Jepang

Tempat wisata di Jepang yang ramah muslim dengan beragam fasilitas juga karena pesona matahari terbitnya, menarik wisatawan dari berbagai negara. Di negeri yang serba disiplin dan presisi ini budaya modern dan tradisional membaur berdampingan tanpa canggung. Jepang juga menjadi salah satu negara terpesat di Asia yang memiliki beragam fasilitas bagi para pelancong muslim. Kini Jepang gencar buka wisata ramah muslim akhir-akhir ini.

Tempat Wisata di Jepang

Tempat Wisata di Jepang

Perjalanan tempat wisata di Jepang dimulai dari salah satu bandara tersibuk di Jepang. Setiap tahun tercatat ada lebih dari 35 juta penumpang yang bepergian di Bandara Narita. Jumlah ini diperkirakan akan terus meningkat, seiring dengan gencarnya pariwisata Jepang. Beragam fasilitas ada disini, termasuk fasilitas bagi para pelancong muslim. Seperti Prayer Room (Mushola), ada dua mushola di Bandara Narita yang resmi bisa digunakan pelancong sejak tahun 2013 lalu. Dengan luas kurang lebih 4 x 4 meter, mushola Narita cukup nyaman dan tentunya memudahkan umat Islam untuk beribadah.

Tsukiji Fish MarketTempat Wisata di Jepang

Tempat Wisata di Jepang

Tempat wisata berikutnya di Jepang adalah Tsukiji Fish Market. Tsukiji Fish Market merupakan pasar ikan tradisonal terbesar di Jepang yang menampung lebih dari dua ribu ton hasil laut. Salah satu hasil laut khas yang di jual disini adalah ikan tuna. Beragam ikan tuna dari pelosok negeri dengan kualitas terbaik di datangkan.

Mengecek kesegaran ikan pertama-tama selalu dilakukan dibagian ekor, semakin merah warnanya semakin baik kualitasnya. Setelah itu ikan biasanya dipotong menjadi beberapa bagian tergantung permintaan pelanggan. Bagian perut (otoro) biasanya merupakan bagian yang paling mahal karena terdapat lemak yang membuat kaya cita rasa daging ikan.

Salah satu ikan yang berada di Tsukiji Fish Market berasal dari Indonesia. Dengan berat 112 kg harga ikan ini mencapai 560 yen atau setara dengan Rp 68 juta. Ikan tuna dari Indonesia selalu diminati. Iklim tropis perairan lautnya membuat konsistensi daging dan lemak ikan seimbang dan tentunya menghasilkan cita rasa yang pas.

Di bagian luar pasar Tsukiji terdapat banyak pedagang yang menjajakan ragam olahan makanan sea food. Termasuk didalamnya sajian tiram tradisional yang ramah muslim. Selain itu terdapat pula soyu atau kecap khas Jepang yang memiliki sertifikat halal. Tak ketinggalan kaleng khusus tempat merebus juga dipisah, khusus bagi para pelanggan muslim. Kedai dibuka tahun 2014 silam dan baru menyajikan menu ramah muslim sejak Desember 2016. Walau perlu adaptasi resep, sang pemilik kedai Naoki Tamura tetap konsisten memberikan alternatif bagi pengunjung muslim.

Penyebaran informasi dan edukasi tentang definisi halal tak lepas dari peran halal media jepang. Sebuah organisasi yang terbentuk empat tahun lalu. Melalui websitenya tim Halal Media Jepang gencar promosikan wilayah dan tempat wisata ramah muslim yang ada di seluruh wilayah Jepang dalam lima bahasa. Kaiji Wada merupakan salah satu dari sembilan staf Halal Media Jepang yang turun langsung kelapangan. Memberikan edukasi mengenai halal pada pemilik restoran.

Tempat Wisata Asakusa di Jepang

Tempat Wisata di Jepang

Wada juga memperkenalkan tempat wisata lainnya di Jepang seperti Asakusa. Di kawasan ini sudah banyak toko makanan ringan ramah muslim. Menggunakan Jinrikisha (becak khas Jepang), suasana Asakusa terasa berbeda. Jinrikisha sempat popular menjadi alat transportasi utama ditahun 1940-an. Dengan tarif 7000 yen atau sekitar Rp 850 ribu, traveler bisa puas berkeliling Asakusa selama 15-20 menit.

Tempat Wisata Kuil Sensoji di Jepang

Tempat Wisata di Jepang

Tempat wisata berikutnya di Jepang yaitu pusat perbelanjaan di pelataran Kuil Sensoji, tak hanya souvenir khas, disini juga menawarkan beragam cemilan ramah muslim. Sebagai kota penyangga Tokyo, Chiba mendeklarasikan dirinya sebagai kota ramah muslim pertama di Jepang.

Yang paling menarik, terdapat juga salon halal yang terletak dipusat kota Chiba. Setelah mendeklarasikan kotanya, sebagai kota ramah muslim pertama di Jepang, beragam fasilitas ramah muslim bermunculan di Chiba. Termasuk dengan adanya salon halal dan ramah muslim ini. Salon ini merupakan 1 dari 9 salon halal yang ada di Chiba.

Untuk mendapatkan perawatan potong rambut terdapat ruang khusus bersekat tirai bagi pengunjung muslimah. Sampo yang digunakanpun sampo khusus yang bersertifikat halal. Selain rambut, perawatan kuku juga tersedia, tanpa menggunakan cat kuku. Harga perawatan di salon tersebut bervariasi, mulai dari 540 yen atau sekitar Rp 60 ribu. Jangan khawatir bila waktu sholat tiba, petugas salon dengan senang hati meminjamkan ruangannya untuk ibadah sholat.

Sachiko Inaizumi pemilik sekaligus Hairstyles Ariel Salon menerapkan konsep halal disalonnya selama 6 bulan terakhir.

Ada banyak pekerjaan untuk memfasilitasi muslim di Chiba, dan saya berpikir untuk berpartisipasi. Dalam hal itu sebenarnya tidak ada kesulitan, sampai saat ini saya tidak menghadapi kesulitan sama sekali," kata Inaizumi pemilik Ariel Salon.

Menjelajahi Chiba berarti melihat jejak perkembangan wisata ramah muslim. Kolaborasi antara komitmen pemegang otoritas dan masyarakat lokal berpadu. Menjadikan Chiba konsisten dengan deklarasinya sebagai kota ramah muslim pertama di Jepang.

Masjid Chiba di Jepang

Tempat Wisata di Jepang

Setelah mengunjungi beberapa tempat wisata di Jepang, Anda juga bisa mengunjungi Masjid Chiba. Pada Oktober 2016 lalu sebuah penggalangan dana pembelian Masjid Chiba di Jepang sempat viral di tanah air ini. Komunitas muslim di Chiba atau dikenal dengan Chiba Islamic Cultural Center (CICC) menggalang dana sebesar Rp 3,1 milyar. Dari 7000 donatur yang tersebar di pelosok negeri. Penggalangan dana inipun tercatat sebagai penggalangan dana online terbesar di Indonesia.

Jika dulu warga muslim sempat menyewa ruang gedung di lantai 3 sebagai mushola dan toko makanan halal dengan biaya sewa Rp 10 juta/bulan, kini seluruh bangunan 5 lantai ini menjadi milik pengurus CICC. Lantai 1 berfungsi sebagai tempat wudlu dan sedang dibangun sebuah halal cafe. Lantai tiga berfungsi sebagai ruang Masjid utama. Lantai 4 merupakan ruang serbaguna dan sekretariat CICC. Sementara lantai 5 berfungsi sebagai ruang pertemuan dan kelas-kelas kegiatan keislaman, seperti kegiatan pengajian muslimah.

Bagi muslim di Chiba memiliki sebuah bangunan Masjid permanen merupakan aset yang kesempatannya belum tentu datang dua kali. Dan juga sebagai estafet kelestarian ajaran Islam dari generasi ke generasi. Imam Masjid Chiba, Kyoichiro Sugimoto pun merasa bersyukur dengan adanya beragam aktivitas yang akan berjalan di Masjid ini. Selain dakwah, tujuan utamanya juga membangun kembali persepsi Islam sesungguhnya.

Masjid ini, kami menyebutnya cultural center, ini untuk para muslim. Jadi ketika ada muslim disini yang ingin mengadakan kegiatan baik lokal maupun internasional, bisa diadakan disini. Tidak hanya untuk muslim, mungkin nanti kami juga akan membuka fasilitas ini bagi para non muslim. Seperti kegiatan seminar, asalkan materinya tidak berlawanan dengan Al-Quran dan Sunnah. Ini masih rencana kedepannya. Jadi para non muslim bisa tahu ini adalah Islamic Center dan mereka pasti akan berinteraksi dengan orang kami para muslim. Mungkin ini langkah awal yang baik untuk menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam dan mengenalkan ajaran Islam yang sesungguhnya," kata Sugimoto.

Nippon Asia Halal Association (NAHA) di Jepang

Masih dibangunan yang sama tepatnya dilantai 2 gedung terdapat sebuah lembaga sertifikasi halal pertama di Chiba, Nippon Asia Halal Association (NAHA). Didirikan sejak tahun 2010, NAHA dibentuk oleh Saeed Akhtar seorang Pakistan yang sudah 21 tahun menetap di Jepang. Berawal dari kesulitannya menemukan makanan halal di Jepang, Dr. Teknologi Pangan ini pun mengamalkan ilmunya untuk mengedukasi masyarakat dan industri makanan lokal tentang definisi produk halal.

Untuk meningkatkan kualitas sertifikasi halalnya, NAHA juga rutin berhubungan dengan beberapa lembaga sertifikasi halal yang sudah di akui dunia, termasuk LPPOM MUI.

Di Jepang, biasanya perusahaan yang ingin mendapatkan sertifikat halal mempelajari dulu segala sesuatunya dan memakan banyak waktu. Kenapa? karena mereka ingin mendapatkan sertifikat halal yang sempurna. Mereka tidak sembarang hanya ingin mendapatkan logo halal saja," ungkap Saeed Akhtar pendiri Nippon Asia Halal Association (NAHA).

Bantuan konsultasi, pengenalan bahan dan prosedur halal, pendaftaran inspeksi pabrik hingga penerbitan sertifikasi merupakan beberapa tugas pokok NAHA. Tak hanya produk kemasan, beberapa rumah makan dan hotel ada juga yang mengurus sertifikasi halalnya disini. seperti yang dilakukan oleh Kyoshi Ito mantan koki hotel. Dirinya sudah bertahun-tahun sajikan masakan halal ditempatnya bekerja.

Pertama kali sangat sulit sekali, agama sayapun berbeda. Memahami makanan halal pun sulit sekali. Kemudian secara bertahap, selama satu tahun, saya mempelajarinya, dan ketika saya mulai memahami mengenai makanan halal, saya rasa tidak sulit." ungkap  Kyoshi Ito, Klien Nippon Asia Halal Association.

Keberhasilan Tempat Wisata Chiba Yang Ramah Muslim di Jepang

Keberhasilan Chiba sebagai kota / tempat wisata ramah muslim di Jepang ini tak lepas dari peran Wali Kotanya, Toshihito Kumagai. Dirinya gencar membangun fasilitas ramah muslim sejak lebih dari 4 tahun lalu.

Kami ingin mengembangkan lingkungan dan tempat wisata ramah muslim. Kami memiliki 4 musim, dari situlah kami ingin meningkatkan keramahtamahan yang benar-benar dari hati di tiap-tiap musimnya. Misalnya dengan salon, di salon kami memberikan fasilitas khusus muslim. Nah salon itu termasuk salah satu fasilitas ramah muslim yang ada disini. Supaya wisatawan muslim bisa tahu tempat mana saja yang ramah bagi mereka, kami juga menyediakan peta khusus. Ini penting bagi muslim yang sering bepergian. Dari situlah kesadaran kami untuk meningkatkan hubungan dengan wisatawan muslim dibangun," kata Toshihito Kumagai.

Geliat perkembangan fasilitas juga tempat wisata di Jepang yang ramah muslim memberikan manfaat bagi para pelancong untuk tetap tawakal pada ajaran agama. Seperti pepatah, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.