Cineam.net

Ukhuwah Islamiyah di Tengah Fanatisme Golongan

Ukhuwah Islamiyah di Tengah Fanatisme Golongan-- Selain persaudaraan seibu, sebapak, atau keduanya, maupun dari segi persusuan, ukhuwah pun mencakup persaudaraan suku, agama, profesi, perasaan, dan lingkungan sosial (Mufradat al-Raghib, 1997: 68). Dari sini kita akan menemukan ukhuwah Islamiyah tidak saja mencakup persaudaraan antar sesama Muslim, termasuk pula persaudaraan yang dimaksud adalah menumbuhkan persaudaraan secara Islami yang bersifat universal.
Ukhuwah Islamiyah di Tengah Fanatisme Golongan

Persaudaraan timbul karena adanya unsur-unsur persamaan di antara pihak-pihak yang bersaudara. Baik itu persamaan darah, emosional, organisasi, kelompok, dan lain sebagainya. Semakin banyak persamaan, semakin kuat pula pertalian persaudaraan terjalin.

Demi alasan sesama, tak jarang seseorang rela membela dan mengorbankan apa pun. Hanya, kita justru sering terjebak pada pembelaan absurd, apa pun rela dikorbankan demi kejayaan sang saudara! Ironis, jika harus membela mati-matian seorang saudara --walau dia salah-- dan dengan tega mengorbankan yang lain. Ini tidak termasuk ukhuwah, melainkan sikap fanatisme dan sentimen kelompok (ta'ashub) yang dilarang Rasulullah ﷺ.

Potret ukhuwah di Tanah Air pada saat ini mulai terasa kekeluargaannya. Meskipun ada beberapa golongan yang menonjolkan rasa egonya, padahal mereka sendiri mengaku Islam. Fanatisme golongan merupakan racun ukhuwah islamiyah. Yang jelas tujuan mulia kita mempersatukan dan menumbuhkan rasa kekeluargaan dengan ukhuwah basyariyyah (kemanusiaan), ukhuwah wathaniyyah (sebangsa), dan fi ad-din (seagama). Jangan sampai sirna dari kamus persaudaraan kita. Sesama manusia, sesama bangsa, bahkan sesama agama jangan mudah terpecah. Kita terus berusaha menumbuhkan ukhuwah islamiyah di tengah fanatisme golongan.

Persaudaraan prioritas (ukhuwwah al-awwaliyat) yang mesti terus dipupuk ialah mendorong persaudaraan simbolik (al-dzatiyah) yang masih mempedulikan perbedaan sekat-sekat geografis, suku, ras, agama, golongan, menuju persaudaraan substantif (al-haqiqiyah) yang lebih berpihak kepada nilai-nilai ajaran ketuhanan dan kemanusiaan sebagai cita-cita bersama. Tidak lagi memperhatikan simbol-simbol perbedaan, melainkan lebih kepada persamaan tujuan yang hendak digapai.

Ukhuwah Islamiyah

Persaudaraan (Ukhuwah Islamiyah) kaum Anshar dan Muhajirin di Madinah adalah contoh saling membela dan tolong-menolong dalam kerangka ikatan akidah yang totalitas. Tidak saja kepada sesama Muslim, tetapi juga antar sesama manusia.

.... dan mereka (kaum Anshar) mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun diri mereka sendiri kekurangan.'' (QS 59: 9)

Seruan persaudaraan Rasulullah kepada umatnya ini tercantum dalam sebuah hadits. Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa kaum muslim adalah bersaudara. Beliau mengimplementasikan hal itu dengan mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Sekalipun tidak kenal satu sama lain, bahkan tanah airnya pun berbeda. Mereka gembira dipersaudarakan atas dasar keimanan demi menggapai ridha Allah ﷻ dalam bingkai ukhuwah Islamiyah.

''Janganlah kamu sekalian saling mendengki, saling menipu, saling memarahi dan saling membenci. Muslim yang satu adalah bersaudara dengan muslim yang lain. Oleh karena itu, ia tidak boleh menganiaya, membiarkan, dan menghinanya. Taqwa itu ada di sini [Rasul ﷺ menunjuk dadanya tiga kali]. Seseorang itu cukup dianggap jahat bila ia menghina saudaranya sesama muslim. Setiap muslim yang satu terhadap muslim yang lain itu haram mengganggu darahnya, hartanya, dan kehormatannya.''(HR Muslim).

Seruan persaudaraan Rasulullah ﷺ kepada umatnya itu berlaku pula bagi setiap kaum muslim dimanapun berada. Karena menganggap seseorang sebagai saudara, ia tidak akan rela membiarkannya nestapa. Ia tidak akan rela saudaranya diembargo oleh pihak lain sehingga kekurangan sandang, pangan, dan bahkan obat-obatan. Kesadaran, perasaan, dan jiwanya akan senantiasa tersayat melihat saudaranya di negeri yang lain tengah getir menghadapi kesulitan hidup.

Terlebih-lebih saat menyaksikan muslim tanpa dosa yang terancam serbuan kaum kafir. Meskipun ada rasa ''benci'' terhadap sesama muslim, hal itu tidak menghalanginya untuk tetap merasakan penderitaan mereka. Semua ini dilakukan sebagai salah satu wujud keimanan. Nabi ﷺ bersabda, ''Salah seorang di antara kamu sekalian tidaklah sempurna imannya sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Karena eratnya ukhuwah islamiyah kesatuan sesama kaum muslim ini, Rasulullah ﷺ bersabda, ''Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.'' (HR Bukhari dan Muslim).

Hadis tersebut mengajarkan dua hal. Pertama, kaum mukmin merupakan satu tubuh yang saling terkait dan menyatu. Penyakit yang terdapat pada sebagian mereka akan dapat berpengaruh kepada bagian lainnya bila tidak ada pencegahan dan sebaliknya. Kedua, karena satu tubuh, kaum mukmin semestinya secara otomatis dapat merasakan penderitaan dan kesulitan yang dirasakan oleh saudaranya yang lain. Seraya ia berupaya agar penderitaan dan kesulitannya itu berkurang hingga hilang sama sekali. Tidakkah kita rindu menjadi kaum muslim yang satu tubuh? jagalah selalu ukhuwah islamiyah ini disetiap kondisi apapun.