Cineam.net

Ulama Mujahid Memimpin Umat

Hanya ulama yang takut kepada Allah (QS Al-Faathir: 28). Itu berarti merekalah Ulama mujahid yang memimpin umat yang selalu mengajak ke jalan kebajikan dan mencegahnya dari kemungkaran. Ulama mujahid paling teguh menunaikan semua kewajiban karena takut ancaman siksa-Nya dan gagal meraih rida-Nya. Termasuk, kewajiban mempertahankan negeri Muslim, menyelamatkan umat manusia dari penjajahan dan kekejaman.

Ulama Mujahid Memimpin Umat

Ulama Mujahid

Pada abad ke-13 M ulama besar Ibnu Taimiyah memberi keteladanan tentang ulama mujahid yang sejati. Dekat dengan Allah dan rakyat, kritis terhadap penguasa, dan berani menghadapi musuh. Saat itu Mesir dan Syam terancam invasi pasukan Tartar yang telah menyikat Irak, kawasan Balkan, Uzbekistan, dan Dagestan. Mereka membantai dan menawan ribuan penduduk, memperkosa kaum wanita, merampas harta penduduk, dan membakar serta memusnahkan buku-buku dan bangunan.

Ibnu Taimiyah segera mendatangi penguasa Mesir dan Syam untuk mendesaknya membuang perselisihan dan perbedaan pendapat. Ia mengingatkan agar umat dan penguasa dari berbagai negeri bersatu menghadapi musuh. Beliau yakinkan rakyat bahwa berjihad melawan penjajahan pasti ditolong Allah. Dia pula yang langsung melobi pemimpin Tartar agar membebaskan tawanan Muslim, sekaligus mengurungkan ambisinya.

Ketika mereka mengotot--dikisahkan Imam Ibnu Katsir dalam Al Bidayah wan Nihayah--Ibnu Taimiyah maju ke medan laga. Beliau memimpin pasukan khusus untuk mengobrak-abrik barisan Tartar, sehingga dalam beberapa hari Tartar hancur dan lari terbirit-birit.

Dari nusantara, ada ulama mujahid, seperti Teungku Cik Di Tiro, Tuanku Imam Bonjol, Antasari, KH Zainal Mustafa, dan banyak ulama lain yang maju melawan Belanda, Jepang, dan komunis. Ulama dari Uzbekistan ada Imam Bukhari yang mengumpulkan dan memilah hadis sambil menjaga benteng. Selain itu, Imam Syafii berjihad bersama warga Iskandariah, Mesir. Lalu dari Palestina Syaikh Izzuddin Al-Qassam yang tidak hanya memimpin shalat dan memberi khutbah Jumat. Tetapi juga memimpin jihad mengusir penjajah Inggris dan Israel hingga menjadi syuhada.

Begitulah ulama mujahid. Mereka tidak cuma jago berfatwa dan mengeluarkan rekomendasi. Mereka memimpin umat dengan ilmu; nasihat; dan akhlak; serta amal nyata dalam kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, dan negara. Merekalah ulama pewaris nabi, baik semangatnya dalam melakukan dakwah dan menerapkan syariah. Mereka berani menghadapi kemungkaran dan musuh.

Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi Maha Pengampun." (QS Fathir:28)

Imam Ghazali dalam Ihya-ulumuddin pernah membagi kategori iman menjadi tiga, yakni iman seorang budak, iman pedagang, dan iman kaum sufi. Iman kategori pertama lebih didorong oleh rasa takut kepada siksaan. Iman kelompok kedua lebih karena ingin mencari untung (pahala), sedangkan iman yang tertinggi adalah yang digambarkan oleh Al-Adawiyah seorang sufi terkenal yang mengatakan, "Diriku tak tahan masuk api neraka, tetapi juga tak pantas memasuki surga-Nya."

Imam Ibnu Taimiyah dalam Al-Aqidatu Al-Washitiyatu meluruskan pengertian iman ini dengan mengatakan bahwa iman (aqidah) adalah perkara yang dibenarkan oleh hati, diucapkan oleh lisan, dan dibuktikan dalam tindakan nyata. Kalau merujuk pada pendapat ini, maka sesungguhnya iman seorang budak justru merupakan iman yang paling lurus. Mengapa tidak? Karena tidak ada seorang budak pun yang berani melanggar perintah majikannya, lantaran takut dipecat. Di balik rasa takutnya itu, sesungguhnya terdapat rasa harap yang besar akan memperoleh balasan dari majikannya.

Seorang budak yang mengetahui akan kebesaran dan kekuasaan Sang Majikan (Allah ﷻ) adalah sebenar-benar "ulama sejati" menurut ayat di atas. Sehingga, di antara makhluknya-Nya yang berbentuk tumbuh-tumbuhan, hewan, air, udara, laut, gunung, dan sebagainya, manusia memperoleh derajat yang paling tinggi di sisi-Nya lantaran imannya itu. Misalnya, Bilal bin Rabbah, budak yang memeluk Islam pada masa Rasulullah saw sangat dipuji beliau karena ketaqwaannya.

Akhir-akhir ini banyak orang yang mengaku sebagai ulama. Bahkan, ada yang memposisikan dirinya linuwih. Akibatnya tak sedikit masyarakat memandang mereka mempunyai ilmu agama lebih dibandingkan rata-rata, sehingga dianggap mengetahui suatu peristiwa sebelum terjadi. Akhirnya orang berduyun-duyun meminta ramalan tentang nasibnya, untung-ruginya, jatuh-bangunnya, dan sebagainya.